Pendahuluan

  • Geomorfologi adalah ilmu (logos) yang mempelajari bentuk permukaan (morfos) Bumi (geos).
  • Bentuk permukaan Bumi dipengaruhi oleh tenaga yang berasal dari dalam Bumi (endogen) dan dari luar Bumi (eksogen).
  • Tenaga endogen meliputi tektonisme dan vulkanisme.
  • Tenaga eksogen meliputi pelapukan, erosi, deposisi.
  • Pada kejadian yang jarang, permukaan Bumi dapat pula dipengaruhi oleh objek dari luar angkasa (ekstraterestrial), misalnya kawah akibat jatuhan meteor.
  • Bentangalam, Bentanglahan, dan Bentuklahan
    • Bentangalam (natural landscape) tidak merujuk pada konsep geomorfologi, melainkan mendeskripsikan alam yang belum dimodifikasi manusia.
    • Bentanglahan (landscape) : merupakan klasifikasi sekumpulan bentuk-bentuk di permukaan Bumi berdasarkan proses pembentuknya.
    • Bentuklahan (landform) : unit bentukan permukaan Bumi yang membentuk suatu bentanglahan.
      Sehingga, kumpulan bentuklahan yang terbentuk dari proses yang sama membentuk satu kategori bentanglahan.
  • Bentanglahan menurut Verstappen dan van Zuidam diklasifikasikan menjadi 10 kategori, yaitu:

1. Bentanglahan Struktural

  • Bentanglahan struktural dibentuk oleh proses tektonisme, yaitu perubahan bentuk litosfer akibat gerakan di dalam Bumi.
  • Proses tektonisme dapat diklasifikasikan menjadi epirogenesa (epeirogeny) dan orogenesa (orogeny).
  • Epirogenesa merupakan gerakan lambat yang terjadi di area yang sangat luas, misal disebabkan oleh kesetimbangan massa jenis mantel dan kerak Bumi. Epeiros berarti benua, genesa berarti pembentukan.
  • Orogenesa merupakan gerakan cepat yang terjadi di area yang sempit, meliputi patahan dan lipatan. Oro berarti pegunungan, genesa berarti pembentukan.
  • Epirogenesa tidak menyebabkan kerusakan pada lapisan batuan, sedangkan orogenesa menyebabkan lapisan batuan pecah dan terlipat.
  • Bentuklahan yang membentuk bentanglahan struktural yaitu:
    1. Kekar
    • Kekar adalah pecahan pada batuan dan belum mengalami pergeseran.

    2. Patahan

    • Patahan adalah pecahan pada batuan dan sudah mengalami pergeseran.
    • Patahan dapat memiliki pergeseran vertikal (dinamakan dip-slip fault) atau pergeseran horizontal (dinamakan strike-slip fault). Pergeseran patahan juga dapat terjadi secara kombinasi, dinamakan oblique fault.
    • Dip-slip fault diklasifikasikan menjadi 2 jenis, sesar turun (normal faults) dan sesar naik (reverse faults). Klasifikasi ini didasarkan pada anatomi dip-slip fault. Dip-slip fault memiliki anatomi footwall, hanging wall, dan gawir (tebing). Bidang patahan sesar memotong batuan, membentuk bagian yang lebar di permukaan tanah (hanging wall) dan bagian yang lebar di bawah permukaan tanah (footwall). Pada sesar turun, gawir terbentuk dari sisi footwall, sedangkan pada sesar naik, gawir terbentuk dari sisi hanging wall. Sesar Turun dan Sesar Naik
    • Patahan dapat terjadi di lokasi yang berdekatan, membentuk dataran rendah dan dataran tinggi yang saling berjajar. Dataran tinggi (plateau) dalam konteks ini dinamakan horst, sedangkan dataran rendah di antara 2 horst disebut graben. Diagram horst dan graben
    • Strike-slip fault diklasifikasikan menjadi 2 berdasarkan gerakannya, sesar dekstral dan sinistral. Sesar dekstral memiliki gerakan bagian kanan mendekati pengamat, sedangkan sesar sinistral memiliki gerakan bagian kiri mendekati pengamat.
      Sesar sinistral dan dekstral
    • Patahan dapat diidentifikasi berdasarkan beberapa karakteristik berikut:
      • Terdapat perubahan ketinggian tiba-tiba, membentuk tebing/gawir sesar.
      • Terdapat linearitas/kelurusan (perbukitan memanjang lurus, aliran sungai lurus).
      • Sungai berbelok tajam mengikuti kelurusan.
      • Lapisan batuan terpotong. Pada batuan yang bersifat akuifer (menyimpan dan mengalirkan air tanah), lapisan batuan terpotong membentuk mata air. Titik mata air yang muncul juga berjajar linear.
    • Bentukan gawir sesar mulanya berbentuk tebing lurus memanjang. Seiring terjadinya proses erosi pada permukaan tebing, muka tebing akan mengalami perubahan bentuk menjadi trapezoid (trapezoidal facet). Ketika erosi sudah terjadi dalam waktu lama, muka tebing akan memiliki bentuk segitiga (triangular facet). Trapezoidal facet dan triangular facet disebut juga sebagai truncated spurs, karena bentuk bukit memanjangnya seperti taji (spur) atau gigi taring yang terpotong ujungnya. fault face development

    3. Lipatan

    • Batuan dapat terlipat secara linear maupun non-linear.
    • Lipatan linear ke atas disebut antiklin, sedangkan lipatan linear ke bawah disebut sinklin.
    • Lipatan non-linear ke atas membentuk struktur kubah, sedangkan lipatan non-linear ke bawah membentuk struktur lembah. Lembah merupakan istilah yang secara umum digunakan untuk menunjukkan wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya, dalam konteks lipatan non-linear, struktur lembah dicirikan oleh lapisan batuan yang membentuk pola konsentrik.

    4. Dataran Tinggi (Plateau)

    • Dataran tinggi dapat terbentuk dari blok batuan yang terangkat akibat gerakan tektonis lempeng yang menekan, menyebabkan sesar di tepi blok batuan.
    • Plateau dapat mengalami erosi, membentuk dataran tinggi yang lebih sempit, disebut mesa, lalu ketika tererosi lanjut lagi akan membentuk butte, dan ketika tinggal tersisa bentukan tiang tinggi atau batu jamur, maka disebut pinnacle. Plateau development

    5. Permukaan Miring

    • Permukaan miring akibat tektonisme diklasifikasikan menjadi 2, cuesta dan hogback. Pembeda dari kedua bentukan ini adalah nilai kemiringan lapisan batuan (dip), cuesta memiliki kemiringan <30 ° dan hogback memiliki kemiringan >30 °.

2. Bentanglahan Vulkanik

Bentanglahan vulkanik dibentuk dari proses vulkanisme, yaitu keluarnya magma ke permukaan Bumi. Proses ini disebut juga erupsi gunungapi.

2.1. Material Bentanglahan Vulkanik

  • Erupsi gunungapi menghasilkan material padat, cair, dan gas.
    • Padat: material hasil erupsi yang berfase padat disebut piroklastik (piro = api, klastik = batu). Material piroklastik diklasifikasikan berdasarkan ukurannya. Deposisi piroklastik pada bentanglahan vulkanik disebut tephra.
      • Abu = memiliki ukuran < 2 mm (setara pasir - lempung dalam klasifikasi ukuran sedimen Wentworth).
      • Lapilli = memiliki ukuran 2 - 64 mm (setara kerikil - kerakal). Lapilli yang memiliki struktur berongga (scoria) disebut juga cinder.
      • Bomb/block = memiliki ukuran > 64 mm (setara berangkal - bongkah). Bomb memiliki bentuk membulat sedangkan block memiliki tepi runcing.
    • Cair: material erupsi berfase cair yaitu lava.
    • Gas: erupsi mengeluarkan gas berupa belerang (solfatara), karbondioksida (mofet), dan uap air (fumarol).
  • Kekuatan erupsi diukur dengan indeks eksplosivitas gunungapi (Volcanic Explosivity Index/VEI). VEI didasarkan pada volume material yang dilepaskan saat erupsi, ketinggian kolom erupsi, dan durasi erupsi gunungapi.
  • Berdasarkan kekuatannya, erupsi gunungapi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

2.2. Proses Bentanglahan Vulkanik

  • Erupsi efusif terjadi pada gunungapi yang memiliki magma encer. Magma encer menyebabkan gas dapat terlepas dengan mudah, sehingga tekanan gas yang terbentuk di dalam tubuh gunung api rendah dan magma keluar mengalir.
  • Erupsi eksplosif terjadi pada gunungapi dengan magma kental. Magma kental menyebabkan gas sulit keluar, sehingga tekanan gas yang terbentuk dalam tubuh gunung api tinggi. Tekanan gas tinggi menyebabkan material lava dan batuan terlempar, dan jika tekanannya sangat tinggi, erupsi dapat menyebabkan sebagian badan gunung api runtuh.
  • Secara lebih detail, tipe erupsi dapat diklasifikasikan berdasarkan tekanan gas dan kekentalan magmanya sebagai berikut. Nama berikut ditentukan berdasarkan tipe erupsi dominan, satu gunungapi dapat mengalami beberapa tipe erupsi selama hidupnya.
    • Tipe Hawaii: memiliki magma encer (basaltik) dan tekanan gas rendah. Lava keluar mengalir dan membentuk pancuran.
    • Tipe Strombolian: memiliki magma encer (basaltik) dan tekanan gas sedang. Lava keluar dalam letupan-letupan, disertai piroklastik.
    • Tipe Vulkano: memiliki magma cair-kental dan tekanan gas sedang hingga tinggi. Tekanan gas tinggi disebabkan karena adanya sumbat lava, sumbat lava akan runtuh ketika tekanan gas sudah tinggi. Erupsi tipe volkano melepaskan material piroklastik ke arah atas, membentuk kolom letusan.
    • Tipe Merapi: memiliki magma kental dan tekanan gas rendah. Pada erupsi tipe merapi juga terdapat pembentukan sumbat lava, namun sumbat lava ini akan runtuh karena tidak stabil (gerakan massa) dan bukan karena tekanan gas yang tinggi. Material erupsi tipe merapi dominan dilepaskan dalam bentuk gerakan massa (seperti longsor) material piroklastik dengan kecepatan tinggi menuruni lereng dan utamanya melalui lembah sungai (baranco) yang dinamakan awan panas (wedhus gembel, pyroclastic flow, nuee ardente, pyroclastic density current). Gerakan awan panas tipe merapi ditentukan arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe St. Vincent: memiliki magma kental dan tekanan gas sedang. Mekanisme erupsi ini serupa dengan erupsi tipe vulkano, namun, kolom awan letusan yang terbentuk memiliki massa jenis yang tinggi, sehingga ambruk dan bergerak menuruni lereng. Gerakan awan panas erupsi tipe ini tidak ditentukan oleh arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe Pelean: memiliki magma kental dan tekanan gas tinggi. Mekanisme letusan gunungapi tipe pelean serupa dengan tipe merapi, namun, sumbat lavanya dapat menahan gas dengan tekanan yang lebih tinggi. Erupsi tipe pelean juga ke arah samping seperti merapi, namun, keruntuhan sumbat lava bukan berupa longsor melainkan berupa ledakan.
    • Tipe Plinian: memiliki tekanan gas sangat tinggi dan magma relatif cair. Mekanisme letusan plinian serupa dengan pelean, namun, ledakan erupsi plinian mengarah ke atas (vertikal), membentuk kolom letusan yang tinggi. Kolom letusan ini dapat pula ambruk, membentuk aliran awan panas yang tidak ditentukan arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe Vesuvius dan Krakatau: memiliki magma kental dan tekanan gas sangat tinggi. Erupsi menyebabkan hancurnya badan gunungapi. Tipe erupsi gunungapi
  • Erupsi gunungapi umumnya terjadi dari satu kawah sentral. Namun, erupsi tipe hawaii juga dapat terjadi pada retakan memanjang, disebut erupsi linear. Erupsi berukuran besar yang menghancurkan badan gunungapi disebut erupsi areal.
  • Tipe aliran lava yang terbentuk dari erupsi gunungapi yaitu:
    • Pahoehoe: aliran lava encer pada lereng landai. Lava membentuk kerak permukaan utuh dengan ujung aliran yang fleksibel, sehingga membentuk bentukan seperti benang (rope-y).
    • ‘A’a: aliran lava kental pada lereng curam. Lava membentuk kerak permukaan lapilli dengan banyak rongga, disebut clinker.
    • Blocky: serupa dengan ‘A’a namun keraknya membentuk material block. Material besar disebabkan karena lava memiliki kandungan silika tinggi.
    • Pillow: bentukan kerak menggembung karena pembekuan sangat cepat akibat erupsi bawah air (submarine).

2.3. Bentuklahan Bentanglahan Vulkanik

  • Bentuk gunungapi dipengaruhi oleh proses erupsi gunungapi, yaitu:
    • Gunungapi Perisai (shield): terbentuk dari akumulasi aliran lava encer. Membentuk kerucut dengan kemiringan landai pada area yang luas.
    • Gunungapi Stratokomposit: terbentuk dari tipe erupsi efusif dan eksplosif yang bergantian. Material dari erupsi eksplosif mendeposisikan material dan lava dari erupsi efusif menstabilkan lereng gunungapi. Bentuk gunungapi berupa kerucut tinggi.
    • Kerucut Cinder: terbentuk dari akumulasi material cinder lepas-lepas. Kerucut berukuran kecil.
  • Bentuklahan vulkanik dapat diklasifikasikan menjadi 2, bentukan ekstrusif jika terbentuk di permukaan dan bentukan intrusif bila terbentuk di bawah permukaan.
  • Ekstrusif:
    • .
  • Intrusif:

3. Bentanglahan Fluvial

  • Bentanglahan fluvial dibentuk dari proses mengalirnya air di permukaan Bumi (proses fluviatil).

4. Bentanglahan Marine

Bentanglahan marine dibentuk dari proses yang berkaitan dengan lautan. Sebelum memperdalam pemahaman mengenai bentanglahan marine, mari mengenal istilah pembagian wilayah kepesisiran terlebih dahulu.

4.1. Proses Geomorfologis Bentanglahan Marine

Perkembangan bentanglahan marine dipengaruhi oleh 2 proses lautan, arus dan gelombang.

4.1.1. Gelombang

Gelombang adalah rambatan energi tanpa diikuti rambatan mediumnya. Maksudnya, gelombang laut merupakan rambatan energi melalui medium air laut, namun air laut sebagai medium hanya bergerak ke atas dan ke bawah, tidak mengikuti gerakan energinya. Gelombang laut memiliki anatomi sebagai berikut:
Anatomi Gelombang Laut
Anatomi Gelombang Laut. Satu unit gelombang didefinisikan sebagai bagian gelombang dari puncak tertinggi satu ke puncak tertinggi selanjutnya atau dari satu lembah terendah ke lembah terendah selanjutnya atau bagian gelombang yang mencakup satu puncak dan satu lembah. Amplitudo adalah tinggi puncak tertinggi dan sama dengan kedalaman lembah terendah terhadap ketinggian permukaan laut. Panjang gelombang (L) adalah panjang satu unit gelombang pada satu waktu. Periode gelombang (T) adalah waktu yang diperlukan di suatu titik pada rambatan gelombang untuk mengalami satu unit gelombang. Frakuensi gelombang yaitu jumlah unit gelombang yang terbentuk dalam satu satuan waktu (satuan Hz untuk jumlah gelombang dalam 1 detik). Sementara itu, cepat rambat gelombang (C) merupakan pembagian dari panjang dan periode gelombang.

Gelombang laut diklasifikasikan berdasarkan panjang periodenya, sebagai berikut:
Klasifikasi Gelombang Laut Menurut Periodenya

  1. Gelombang karena angin:
    • Pengaruh angin terhadap gelombang dipengaruhi oleh 3 aspek: kecepatan angin, lama angin berhembus, dan fetch. Fetch adalah panjang permukaan air laut yang dipengaruhi oleh angin dengan arah yang sama.
    • Angin menyebabkan riak-riak kecil di permukaan laut (ripple).
    • Riak-riak tersebut ketika bertemu dengan gelombang riak lain dapat mengalami interferensi konstruktif atau destruktif. Interferensi konstruktif terjadi ketika gelombang yang bertemu memiliki fase yang sama, artinya puncak gelombang bertemu puncak gelombang dan lembah gelombang bertemu lembah gelombang. Sebaliknya, ketika gelombang yang bertemu memiliki fase yang berlawanan, maka akan terbentuk interferensi destruktif. Interferensi konstruktif membentuk gelombang yang lebih besar sedangkan interferensi negatif mengurangi ukuran gelombang.
    • Ketika interferensi konstruktif membentuk gelombang dengan periode lebih dari 1/10 detik, maka dinamai gelombang angin (wind wave).
    • Gelombang angin yang terbentuk di perairan tertutup (seluruh tepinya tertutup halangan) dapat membentuk gelombang stasioner (standing wave/seiche). Halangan di seluruh tepi perairan berarti energi gelombang tidak dapat bergerak ke satu arah tertentu, titik terbentuknya puncak dan lembah gelombang tidak berpindah.
  2. Gelombang karena gangguan seismik atau longsor (Tsunami):
    • Gangguan seismik dan longsor dapat menyebabkan perpindahan vertikal air laut ke arah atas.
    • Ketika kolom air yang terangkat ini jatuh kembali, energi yang terbawa akan dilepaskan dalam bentuk gelombang tsunami ke segala arah.
  3. Gelombang karena gravitasi (Pasang-Surut):
    • Karena kedekatan jarak Bulan terhadap Bumi, pengaruh gaya gravitasinya cukup untuk mempengaruhi ketinggian permukaan lapisan air yang membentuk lautan.
    • Puncak gelombang terbentuk di permukaan Bumi yang menghadap dan membelakangi Bulan. Pada sisi yang membelakangi Bulan, revolusi Bulan membentuk gaya sentrifugal yang inersianya melebihi kekuatan gravitasi Bulan, membentuk puncak gelombang. Sementara itu, di sisi yang menghadap Bulan, kekuatan gravitasi Bulan lebih tinggi daripada inersia, sehingga membentuk puncak gelombang juga.
    • Gaya sentrifugal yang terbentuk dari revolusi Bulan bergerak ke arah menjauhi Bulan karena sistem revolusi Bulan terhadap Bumi tidak berputar pada pusat Bumi, melainkan agak bergeser ke arah mendekati Bulan. Titik ini bernama barycenter.

Diagram Benda Bebas Pasang Surut
Diagram Badan Bebas Air Laut yang Dikenai Gravitasi Bulan

Diagram Barycenter Sistem Bumi-Bulan
Diagram Barycenter Sistem Bumi-Bulan

  • Ketika Bumi melakukan rotasi, suatu lokasi di Bumi akan melewati 2 area pasang dan 2 area surut dalam waktu 24 jam. Fenomena ini disebut semidiurnal.
  • Pengaruh kemiringan bidang revolusi Bulan terhadap letak lintang suatu lokasi dapat menyebabkan suatu lokasi mengalami 1 pasang dan 1 surut dalam waktu 24 jam. Fenomena ini disebut diurnal.
  • Pengaruh topograrfi lokal dan geometri cekungan samudra, dikombinasikan dengan kemiringan bidang revolusi Bulan, dapat pula menyebabkan pasang surut campuran dominan semidiurnal atau campuran dominan semidiurnal.

4.1.2. Arus

Arus adalah aliran air dalam tubuh lautan. Dalam materi Meteorologi dan Klimatologi, dijelaskan bahwa arus di lautan lepas dapat terbentuk oleh angin sirkulasi meridional (membentuk Gyre) dan perbedaan suhu serta salinitas lautan (membentuk sirkulasi termohalin). Sementara itu, arus yang mempengaruhi bentuklahan pesisir terbentuk ketika gelombang pecah.

Gelombang laut di laut dalam hanya merambat di permukaan laut tanpa energinya menyentuh dasar laut, sehingga, bisa membentuk gerakan siklik (memutar). Ketika gerakan siklik air laut tersebut terganggu oleh dasar laut, maka sebagian energinya berubah bentuk. Energi yang sebelumnya membentuk cepat rambat gelombang berubah menjadi amplitudo gelombang. Ketika gelombang mencapai ketinggian tertentu, ia akan mencapai kondisi tidak stabil, sehingga pecah. Air tidak lagi bergerak siklik kembali ke bawah, melainkan bergerak meluncur ke arah daratan.
Diagram Gelombang Dalam, Peralihan, dan Dangkal
Diagram Pembentukan Pecah Gelombang (Surf). Dapat diamati bahwa fase gelombang tidak menyentuh dasar laut disebut gelombang dalam, gelombang menyentuh dasar laut disebut gelombang peralihan, dan gelombang pecah disebut gelombang dangkal. C dalam diagram menyimbolkan cepat rambat gelombang (celerity), sedangkan L menyimbolkan panjang gelombang.

Terdapat 3 jenis arus yang terbentuk di pesisir: arus menuju pantai, arus susur pantai, dan arus retas.

  1. Arus Menuju Pantai (Onshore Current) Arus menuju pantai adalah arus yang bergerak tegak lurus menuju ke daratan. Arus ini terbentuk ketika gelombang yang gerakannya tegak lurus terhadap garis pantai pecah. Arus ini menyebabkan transportasi material ke arah darat.

  2. Arus Susur Pantai (Longshore Current)
    Arus susur pantai adalah arus yang bergerak menyusuri pantai. Arus ini terbentuk ketika gelombang yang datang memiliki arah miring terhadap garis pantai, sehingga, ketika gelombang pecah, air terdorong ke arah miring terhadap pantai. Arus ini bergerak paralel dengan garis pantai hingga bertemu halangan topografis atau arus susur pantai lain yang arahnya berlawanan. Arus ini menyebabkan perpindahan material paralel terhadap garis pantai.

  3. Arus Retas (Rip Current)
    Arus retas bergerak tegak lurus menjauhi garis pantai, membawa material ke arah laut. Arus ini dapat terbentuk ketika terdapat 2 arus susur pantai bertemu atau ketika terdapat aliran air dari sungai menuju ke laut. Arus ini menyebabkan perpindahan material pantai ke arah laut.

4.2. Bentuklahan Bentanglahan Marine

4.2.1. Pembagian Wilayah Kepesisiran

Pembagian Wilayah Kepesisiran

  • Wilayah kepesisiran meliputi wilayah daratan yang masih dipengaruhi proses lautan dan wilayah lautan yang dipengaruhi oleh proses daratan.
  • Wilayah ini mencakup area antara permulaan pecah gelombang hingga sebagian daratan yang memiliki air payau (campuran air tawar dan asin).
    • Dari laut ke darat, wilayah ini terdiri dari zona pecah gelombang dan pantai (shore), dibatasi garis pantai (shoreline). Garis pantai adalah garis surut terendah.
    • Area antara garis pantai dengan garis pesisir (coastline) disebut pantai (shore). Garis pesisir adalah garis pasang tertinggi.
    • Pesisir (coast) berada di belakang pantai yang masih memiliki material berasal dari lautan.
    • Wilayah daratan di belakangnya yang masih dipengaruhi air payau dapat membentuk rawa belakang jika tergenang atau dataran aluvial kepesisiran jika kering.
    • Gisik (beach) adalah wilayah dengan material lepas-lepas. Beting (tanggul) dapat terbentuk pada garis pesisir.
    • Susunan beting gisik berulang dapat terbentuk di wilayah pesisir ketika daratan bertambah luas (pantai maju). Wilayah antara beting gisik dapat membentuk lembah (swale) kering maupun tergenang.

4.2.2. Klasifikasi Pesisir

Berdasarkan tenaga pembentuknya, Shepard (1972) mengklasifikasikan pesisir menjadi pesisir primer dan sekunder.
Pesisir Primer
Pesisir primer terbentuk karena tenaga dari daratan. Pesisir ini disebut juga pesisir muda, karena pengaruh tenaga pembentuk awal lebih dominan dari tenaga gelombang dan arus laut.

  1. Pesisir Erosi Daratan (Land Erosion Coast)
    Pesisir erosi daratan terbentuk karena erosi oleh sungai atau gletser. Pesisir yang terbentuk dari erosi sungai disebut Ria, sedangkan gletser membentuk pesisir Fjord. Pantai saku pada bentanglahan karst juga termasuk pesisir erosi daratan, karena pesisir terbentuk pada lembah karst yang terbentuk karena erosi pelarutan batuan oleh air hujan. Pesisir ini dicirikan oleh teluk yang memanjang berbentuk lembah ke daratan.
  2. Pesisir Deposisi Subaerial (Subaerial Deposition Coast)
    Pesisir deposisi subaerial terbentuk dari deposisi material dari aliran sungai, gletser, atau angin. Pesisir tipe ini mencakup delta, pantai gisik, gumuk pasir, paparan lumpur, pantai rawa, dan mangrove. Pesisir yang terbentuk pada wilayah dengan gelombang yang kuat membentuk pantai gisik, karena mampu membawa sedimen berukuran besar, sedangkan pesisir dengan gelombang lemah membentuk paparan lumpur dan rawa. Pesisir gumuk pasir terbentuk pada pesisir gisik dengan angin yang kuat. Ternary diagram klasifikasi delta galloway

Delta diklasifikasikan oleh Galloway (1975) berdasarkan tenaga utama pembentuknya. Delta yang terbentuk karena tenaga sungai yang dominan memiliki bentuk memanjang ke laut dan memiliki banyak percabangan (distributary), dinamakan delta elongate. Delta yang terbentuk karena gelombang yang dominan tidak memiliki distributary, memiliki bentuk segitiga ke arah laut dengan titik terjauh pada muara sungai, dinamakan delta cuspate. Delta lobate terbentuk ketika tenaga sungai dan gelombang sama-sama dominan, membentuk delta yang membulat dengan banyak distributary. Delta yang terbentuk karena tenaga dominan pasang-surut memiliki banyak bentukan pulau kecil, dinamakan delta estuarine.

  1. Pesisir Vulkanik (Volcanic Coast)
    Pantai vulkanik terbentuk dari deposisi langsung material hasil letusan gunungapi.
  2. Pesisir Struktural (Structurally-shaped Coast)
    Pesisir struktural terbentuk dari gawir sesar. Pesisir ini disebut memiliki tebing sejati (true cliff), artinya, bentukan tebing aktif mengalami erosi.

Pesisir Sekunder
Pesisir sekunder terbentuk karena tenaga dari lautan.

  1. Pesisir Erosi Gelombang (Wave Erosion Coast)
    Pesisir erosi gelombang membentuk beberapa bentuklahan khas sebagai berikut: ilustrasi cliff dan wave cut platform

Tebing yang terbentuk tidak langsung menunjam ke laut dalam, melainkan memiliki paparan di bagian depannya, dinamakan paparan erosi gelombang (wave-cut platform). Tebing ini juga termasuk tebing sejati karena masih mengalami erosi. Cekungan pada kaki tebing yang terbentuk karena gelombang mengerosi tebing disebut notch. refraksi gelombang laut

Pada tanjung (headland), gelombang dapat bergerak datang dari arah samping karena adanya refraksi gelombang. Dasar laut di depan tanjung memiliki kedalaman (batimetri) yang lebih dangkal daripada wilayah sekitarnya, sehingga gelombang mengalami pelambatan lebih dahulu. Akibatnya, energi gelombang terkonsentrasi ke arah tanjung yang memiliki cepat rambat gelombang lebih rendah. Sementara itu, wilayah teluk mengalami energi gelombang yang lebih kecil. Ilustrasi headland erosion landform

Erosi pada bagian samping tanjung dapat membentuk bentukan khas berupa gua laut (sea cave), yang dapat membesar dan menembus sisi lain tanjung sehingga membentuk plengkung atau jembatan alami (natural arch). Erosi lanjut pada dasar lereng akan menyebabkan bagian atas plengkung tidak stabil, sehingga membentuk daratan terpisah yang disebut tonggak laut (sea stack), yang ketika mengalami erosi lebih lanjut akan membentuk sea stump.

  1. Pesisir Deposisi Lautan (Marine Deposition Coast)
    Pesisir deposisi laut terbentuk dari material yang berasal dari laut. Pesisir yang sedimennya berasal dari laut umumnya dicirikan dengan asal biogenik (pecahan karang dan cangkang), kadar mineral kalsit yang lebih tinggi, atau tidak adanya sumber material dalam jumlah besar dari darat (muara sungai yang memiliki longshore current). Pesisir tipe ini membentuk bentuklahan sebagai berikut:
    • Gisik
      Gisik dari deposisi material
    • Bura (spit) dan tombolo Laguna Pulau pelindung
  2. Pesisir yang Dibentuk oleh Organisme (Coast Built By Organism)
    Organisme membentuk bentuklahan pesisir khas sebagai berikut:
    Fringing reef Barrier reef Atoll bentuklahan terumbu

5. Bentanglahan Solusional

  • Bentanglahan solusional dibentuk dari proses pelarutan batuan.

    6. Bentanglahan Denudasional

  • Bentanglahan denudasional dibentuk dari proses pelapukan, erosi, dan gerakan massa yang intensif.

    7. Bentanglahan Aeolian

  • Bentanglahan aeolian dibentuk dari proses erosi, transportasi, dan deposisi oleh agen angin.

    8. Bentanglahan Glasial

  • Bentanglahan glasial dibentuk dari proses erosi, transportasi, dan deposisi oleh agen es (gletser).

    9. Bentanglahan Organik

  • Bentanglahan organik dibentuk dari proses yang berkaitan dengan makhluk hidup.

    10. Bentanglahan Antropogenik

  • Bentanglahan antropogenik dibentuk dari proses yang berkaitan dengan manusia.