Pendahuluan

  • Geomorfologi adalah ilmu (logos) yang mempelajari bentuk permukaan (morfos) Bumi (geos).
  • Bentuk permukaan Bumi dipengaruhi oleh tenaga yang berasal dari dalam Bumi (endogen) dan dari luar Bumi (eksogen).
  • Tenaga endogen meliputi tektonisme dan vulkanisme.
  • Tenaga eksogen meliputi pelapukan, erosi, deposisi.
  • Pada kejadian yang jarang, permukaan Bumi dapat pula dipengaruhi oleh objek dari luar angkasa (ekstraterestrial), misalnya kawah akibat jatuhan meteor.
  • Bentangalam, Bentanglahan, dan Bentuklahan
    • Bentangalam (natural landscape) tidak merujuk pada konsep geomorfologi, melainkan mendeskripsikan alam yang belum dimodifikasi manusia.
    • Bentanglahan (landscape) : merupakan klasifikasi sekumpulan bentuk-bentuk di permukaan Bumi berdasarkan proses pembentuknya.
    • Bentuklahan (landform) : unit bentukan permukaan Bumi yang membentuk suatu bentanglahan.
      Sehingga, kumpulan bentuklahan yang terbentuk dari proses yang sama membentuk satu kategori bentanglahan.
  • Bentanglahan menurut Verstappen dan van Zuidam diklasifikasikan menjadi 10 kategori, yaitu:

1. Bentanglahan Struktural

  • Bentanglahan struktural dibentuk oleh proses tektonisme, yaitu perubahan bentuk litosfer akibat gerakan di dalam Bumi.
  • Proses tektonisme dapat diklasifikasikan menjadi epirogenesa (epeirogeny) dan orogenesa (orogeny).
  • Epirogenesa merupakan gerakan lambat yang terjadi di area yang sangat luas, misal disebabkan oleh kesetimbangan massa jenis mantel dan kerak Bumi. Epeiros berarti benua, genesa berarti pembentukan.
  • Orogenesa merupakan gerakan cepat yang terjadi di area yang sempit, meliputi patahan dan lipatan. Oro berarti pegunungan, genesa berarti pembentukan.
  • Epirogenesa tidak menyebabkan kerusakan pada lapisan batuan, sedangkan orogenesa menyebabkan lapisan batuan pecah dan terlipat.
  • Proses tektonisme membentuk 2 jenis gaya pada lapisan batuan, kompresi (tekanan) dan ekstensi (tarikan). Gaya tersebut yang menyebabkan perubahan pada lapisan batuan permukaan Bumi yang membentuk bentanglahan struktural.
  • Bentuklahan yang membentuk bentanglahan struktural yaitu:
    1. Kekar
    • Kekar adalah pecahan pada batuan dan belum mengalami pergeseran.
    • Kekar dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe utama berdasarkan gaya pembentuknya, kekar gerus dan kekar tarik.
      • Kekar gerus disebabkan oleh gaya kompresi. Kompresi disebabkan karena tekanan dari setidaknya dua arah misalnya pada bagian dalam lipatan batuan. Kekar gerus dicirikan oleh kumpulan retakan lurus yang saling memotong.

        kekar gerus

      • Kekar tarik disebabkan oleh gaya ektensi. Ekstensi disebabkan oleh tarikan dari setidaknya dua arah, misalnya akibat tarikan pada keseluruhan blok batuan, pendinginan batuan yang menyebabkan volume mengecil, atau hilangnya tekanan dari beban yang menimbun batuan (exfoliation). Berdasarkan geometrinya, kekar tarik dapat diklasifikasikan menjadi:

        • Kekar tiang (columnar joint): kekar tiang terbentuk saat pembekuan batuan beku. Ketika lava membeku maka volumenya berkurang. Akibatnya, terbentuk gaya tarik dalam tubuh batuan yang membentuk bentukan seperti tiang (column).

          kekar tiang

          Kekar Kolom di daerah Perbukitan Selacau-Lagadar. (Foto oleh Muhammad Malik Arrahiem, 2012)

        • Kekar sistematik: kekar yang memiliki pola sistematis. Membentuk pecahan lurus yang jarak dan orientasinya seragam satu sama lain. Terjadi pada batuan yang mengalami gaya seragam, misalnya pada bagian luar lipatan. Kekar sistematik juga dapat disebabkan oleh penghilangan beban batuan, misalnya kekar lembar (sheet joints) yang terbentuk pada permukaan batuan beku intrusif.

          kekar lembar pelapukan mengulitbawang

          Kekar lembar (kiri) dan pelapukan mengulitbawang (kanan), contoh kekar akibat exfoliation.

        • Kekar non-sistematik: tidak memiliki pola sistematis karena gaya yang membentuknya tidak seragam.

          ilustrasi kekar sistematis dan non-sistematis

    2. Patahan

    • Patahan adalah pecahan pada batuan dan sudah mengalami pergeseran.
    • Patahan dapat memiliki pergeseran vertikal (dinamakan dip-slip fault) atau pergeseran horizontal (dinamakan strike-slip fault). Pergeseran patahan juga dapat terjadi secara kombinasi, dinamakan oblique fault.
    • Dip-slip fault diklasifikasikan menjadi 2 jenis, sesar turun (normal faults) dan sesar naik (reverse faults). Klasifikasi ini didasarkan pada anatomi dip-slip fault. Dip-slip fault memiliki anatomi footwall, hanging wall, dan gawir (tebing). Bidang patahan sesar memotong batuan, membentuk bagian yang lebar di permukaan tanah (hanging wall) dan bagian yang lebar di bawah permukaan tanah (footwall). Pada sesar turun, gawir terbentuk dari sisi footwall, sedangkan pada sesar naik, gawir terbentuk dari sisi hanging wall.

      Sesar Turun dan Sesar Naik

    • Patahan dapat terjadi di lokasi yang berdekatan, membentuk dataran rendah dan dataran tinggi yang saling berjajar. Dataran tinggi (plateau) dalam konteks ini dinamakan horst, sedangkan dataran rendah di antara 2 horst disebut graben.

      Diagram horst dan graben

    • Strike-slip fault diklasifikasikan menjadi 2 berdasarkan gerakannya, sesar dekstral dan sinistral. Sesar dekstral memiliki gerakan bagian kanan mendekati pengamat, sedangkan sesar sinistral memiliki gerakan bagian kiri mendekati pengamat.

      Sesar sinistral dan dekstral

    • Patahan dapat diidentifikasi berdasarkan beberapa karakteristik berikut:
      • Terdapat perubahan ketinggian tiba-tiba, membentuk tebing/gawir sesar.
      • Terdapat linearitas/kelurusan (perbukitan memanjang lurus, aliran sungai lurus).
      • Sungai berbelok tajam mengikuti kelurusan.
      • Lapisan batuan terpotong. Pada batuan yang bersifat akuifer (menyimpan dan mengalirkan air tanah), lapisan batuan terpotong membentuk mata air. Titik mata air yang muncul juga berjajar linear.
    • Bentukan gawir sesar mulanya berbentuk tebing lurus memanjang. Seiring terjadinya proses erosi pada permukaan tebing, muka tebing akan mengalami perubahan bentuk menjadi trapezoid (trapezoidal facet). Ketika erosi sudah terjadi dalam waktu lama, muka tebing akan memiliki bentuk segitiga (triangular facet). Trapezoidal facet dan triangular facet disebut juga sebagai truncated spurs, karena bentuk bukit memanjangnya seperti taji (spur) atau gigi taring yang terpotong ujungnya.

      fault face development

    3. Lipatan

    • Batuan dapat terlipat secara linear maupun non-linear.
    • Lipatan linear ke atas disebut antiklin, sedangkan lipatan linear ke bawah disebut sinklin. Batuan di permukaan dapat mengalami lipatan meskipun lapisan di bawahnya membentuk patahan karena sifatnya lebih lunak daripada batuan di bawahnya, lipatan linear tipe ini disebut monoklin.
    • Lipatan non-linear ke atas membentuk struktur kubah, sedangkan lipatan non-linear ke bawah membentuk struktur lembah. Lembah merupakan istilah yang secara umum digunakan untuk menunjukkan wilayah yang lebih rendah dari sekitarnya, dalam konteks lipatan non-linear, struktur lembah dicirikan oleh lapisan batuan yang membentuk pola konsentrik.

      Ilustrasi lipatan

      Ilustrasi menunjukkan lipatan. Pusat lipatan disebut sumbu lipatan, sedangkan batuan miring di sisinya disebut sayap lipatan. (a) sinklin, (b) antiklin , (c) monoklin, (d) lipatan antiklin menunjam (sumbu lipatan miring sehingga masuk ke dalam tanah), (e) kubah, (d) lembah lipatan.

    4. Dataran Tinggi (Plateau)

    • Dataran tinggi dapat terbentuk dari blok batuan yang terangkat akibat gerakan tektonis lempeng yang menekan, menyebabkan sesar di tepi blok batuan.
    • Plateau dapat mengalami erosi, membentuk dataran tinggi yang lebih sempit, disebut mesa, lalu ketika tererosi lanjut lagi akan membentuk butte, dan ketika tinggal tersisa bentukan tiang tinggi atau batu jamur, maka disebut pinnacle.

    Plateau development

    5. Permukaan Miring

    • Permukaan miring akibat tektonisme diklasifikasikan menjadi 2, cuesta dan hogback. Pembeda dari kedua bentukan ini adalah nilai kemiringan lapisan batuan (dip), cuesta memiliki kemiringan <30 ° dan hogback memiliki kemiringan >30 °.

      cuesta & hogback

2. Bentanglahan Vulkanik

Bentanglahan vulkanik dibentuk dari proses vulkanisme, yaitu keluarnya magma ke permukaan Bumi. Proses ini disebut juga erupsi gunungapi.

2.1. Material Bentanglahan Vulkanik

  • Erupsi gunungapi menghasilkan material padat, cair, dan gas.
    • Padat: material hasil erupsi yang berfase padat disebut piroklastik (piro = api, klastik = batu). Material piroklastik diklasifikasikan berdasarkan ukurannya. Deposisi piroklastik pada bentanglahan vulkanik disebut tephra.
      • Abu = memiliki ukuran < 2 mm (setara pasir - lempung dalam klasifikasi ukuran sedimen Wentworth).
      • Lapilli = memiliki ukuran 2 - 64 mm (setara kerikil - kerakal). Lapilli yang memiliki struktur berongga (scoria) disebut juga cinder.
      • Bomb/block = memiliki ukuran > 64 mm (setara berangkal - bongkah). Bomb memiliki bentuk membulat sedangkan block memiliki tepi runcing.
    • Cair: material erupsi berfase cair yaitu lava.
    • Gas: erupsi mengeluarkan gas berupa belerang (solfatara), karbondioksida (mofet), dan uap air (fumarol).
  • Kekuatan erupsi diukur dengan indeks eksplosivitas gunungapi (Volcanic Explosivity Index/VEI). VEI didasarkan pada volume material yang dilepaskan saat erupsi, ketinggian kolom erupsi, dan durasi erupsi gunungapi.
  • Berdasarkan kekuatannya, erupsi gunungapi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

2.2. Proses Bentanglahan Vulkanik

  • Erupsi efusif terjadi pada gunungapi yang memiliki magma encer. Magma encer menyebabkan gas dapat terlepas dengan mudah, sehingga tekanan gas yang terbentuk di dalam tubuh gunung api rendah dan magma keluar mengalir.
  • Erupsi eksplosif terjadi pada gunungapi dengan magma kental. Magma kental menyebabkan gas sulit keluar, sehingga tekanan gas yang terbentuk dalam tubuh gunung api tinggi. Tekanan gas tinggi menyebabkan material lava dan batuan terlempar, dan jika tekanannya sangat tinggi, erupsi dapat menyebabkan sebagian badan gunung api runtuh.
  • Secara lebih detail, tipe erupsi dapat diklasifikasikan berdasarkan tekanan gas dan kekentalan magmanya sebagai berikut. Nama berikut ditentukan berdasarkan tipe erupsi dominan, satu gunungapi dapat mengalami beberapa tipe erupsi selama hidupnya.
    • Tipe Hawaii: memiliki magma encer (basaltik) dan tekanan gas rendah. Lava keluar mengalir dan membentuk pancuran.
    • Tipe Strombolian: memiliki magma encer (basaltik) dan tekanan gas sedang. Lava keluar dalam letupan-letupan, disertai piroklastik.
    • Tipe Vulkano: memiliki magma cair-kental dan tekanan gas sedang hingga tinggi. Tekanan gas tinggi disebabkan karena adanya sumbat lava, sumbat lava akan runtuh ketika tekanan gas sudah tinggi. Erupsi tipe volkano melepaskan material piroklastik ke arah atas, membentuk kolom letusan.
    • Tipe Merapi: memiliki magma kental dan tekanan gas rendah. Pada erupsi tipe merapi juga terdapat pembentukan sumbat lava, namun sumbat lava ini akan runtuh karena tidak stabil (gerakan massa) dan bukan karena tekanan gas yang tinggi. Material erupsi tipe merapi dominan dilepaskan dalam bentuk gerakan massa (seperti longsor) material piroklastik dengan kecepatan tinggi menuruni lereng dan utamanya melalui lembah sungai (baranco) yang dinamakan awan panas (wedhus gembel, pyroclastic flow, nuee ardente, pyroclastic density current). Gerakan awan panas tipe merapi ditentukan arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe St. Vincent: memiliki magma kental dan tekanan gas sedang. Mekanisme erupsi ini serupa dengan erupsi tipe vulkano, namun, kolom awan letusan yang terbentuk memiliki massa jenis yang tinggi, sehingga ambruk dan bergerak menuruni lereng. Gerakan awan panas erupsi tipe ini tidak ditentukan oleh arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe Pelean: memiliki magma kental dan tekanan gas tinggi. Mekanisme letusan gunungapi tipe pelean serupa dengan tipe merapi, namun, sumbat lavanya dapat menahan gas dengan tekanan yang lebih tinggi. Erupsi tipe pelean juga ke arah samping seperti merapi, namun, keruntuhan sumbat lava bukan berupa longsor melainkan berupa ledakan.
    • Tipe Plinian: memiliki tekanan gas sangat tinggi dan magma relatif cair. Mekanisme letusan plinian serupa dengan pelean, namun, ledakan erupsi plinian mengarah ke atas (vertikal), membentuk kolom letusan yang tinggi. Kolom letusan ini dapat pula ambruk, membentuk aliran awan panas yang tidak ditentukan arah runtuhnya sumbat lava.
    • Tipe Vesuvius dan Krakatau: memiliki magma kental dan tekanan gas sangat tinggi. Erupsi menyebabkan hancurnya badan gunungapi.

      Tipe erupsi gunungapi

  • Erupsi gunungapi umumnya terjadi dari satu kawah sentral. Namun, erupsi tipe hawaii juga dapat terjadi pada retakan memanjang, disebut erupsi linear. Erupsi berukuran besar yang menghancurkan badan gunungapi disebut erupsi areal.
  • Ketika magma mencapai permukaan, ia akan mengalir sebagai lava. Permukaan aliran lava akan mendingin dan membeku terlebih dahulu, membentuk tipe aliran sebagai berikut:
    • Pahoehoe: aliran lava encer pada lereng landai. Lava membentuk kerak permukaan utuh dengan ujung aliran yang fleksibel, sehingga membentuk bentukan seperti benang (rope-y).
    • ‘A’a: aliran lava kental pada lereng curam. Lava membentuk kerak permukaan lapilli dengan banyak rongga, disebut clinker.
    • Blocky: serupa dengan ‘A’a namun keraknya membentuk material block. Material besar disebabkan karena lava memiliki kandungan silika tinggi.
    • Pillow: bentukan kerak menggembung karena pembekuan sangat cepat akibat erupsi bawah air (submarine).

      tipe aliran lava

  • Selain disebabkan karena keluarnya magma, erupsi gunungapi dapat pula terjadi akibat interaksi airtanah dengan magma yang membentuk tekanan uap air tinggi. Erupsi tipe ini disebut erupsi freatik.

2.3. Bentuklahan Bentanglahan Vulkanik

  • Bentuk gunungapi dipengaruhi oleh proses erupsi gunungapi, yaitu:
    • Gunungapi Perisai (shield): terbentuk dari akumulasi aliran lava encer. Membentuk kerucut dengan kemiringan landai pada area yang luas.
    • Gunungapi Stratokomposit: terbentuk dari tipe erupsi efusif dan eksplosif yang bergantian. Material dari erupsi eksplosif mendeposisikan material dan lava dari erupsi efusif menstabilkan lereng gunungapi. Bentuk gunungapi berupa kerucut tinggi.
    • Kerucut Cinder: terbentuk dari akumulasi material cinder lepas-lepas. Kerucut berukuran kecil.
  • Bentuklahan vulkanik dapat diklasifikasikan menjadi 2, bentukan ekstrusif jika terbentuk di permukaan dan bentukan intrusif bila terbentuk di bawah permukaan.
  • Ekstrusif:
    • Kerucut gunungapi (volcanic cone): merupakan badan gunungapi, berbentuk kerucut, hasil dari akumulasi material erupsi. Jarak dari pusat letusan dapat memengaruhi bentuklahan kerucut gunungapi karena perbedaan proses yang membentuknya. Perbedaan ini diklasifikasikan sebagai fasies gunungapi sebagai berikut:
      • Fasies sentral: mencakup wilayah puncak gunungapi. Bentuklahan yang dapat ditemukan di fasies sentral mencakup kawah/kepundan dan kubah lava. Pada gunungapi dengan tekanan gas tinggi, kubah lava dapat memiliki bentukan seperti tiang, karena terdorong tinggi dari kawah, disebut volcanic spine.
      • Fasies proximal: mencakup area lereng atas gunungapi, terbentuk dari batuan hasil lithifikasi piroklastik dan pembekuan lava.
      • Fasies medial: mencakup area lereng bawah, terbentuk dari material yang mengalami transportasi dari lokasi deposisi awal, misal melalui banjir lahar. Terdapat pula hasil deposisi awan panas.
      • Fasies distal: terbentuk dari material vulkanik yang sudah mengalami pelapukan, berupa batupasir dan batulanau. Terdapat pula tuf dari deposisi abu vulkanik. Material memiliki sortasi baik. Bentuklahan pada fasies ini dapat disebut dataran fluviovulkanik, karena terbentuk dari proses gabungan sungai dan vulkanik.
    • Baranco: bentuklahan lembah sungai dalam dan terjal pada kerucut gunungapi.
    • Medan lava: permukaan yang terbentuk dari pembekuan lava encer. Dapat ditemukan pada lereng kerucut gunungapi.
    • Kerucut parasiter: kerucut gunungapi berukuran kecil yang terbetuk di lereng gunungapi utama. Kerucut parasiter dapat terbentuk akibat erupsi parasiter maupun erupsi eksentrik. Magma erupsi parasiter berasal dari dapur magma yang sama dengan kawah utama, sedangkan erupsi eksentrik memiliki magma yang berasal dari kedalaman yang lebih dalam.
    • Sabuk mata air: titik-titik mata air terbentuk mengelilingi kerucut gunungapi pada tekuk lereng (break of slope), yaitu pada perubahan kemiringan lereng, misal antara lereng tengah dan lereng bawah atau antara lereng bawah dan kaki lereng gunungapi. Terbentuk karena perubahan kemiringan perlapisan batuan yang mengandung air tanah. Pembentukan mata air mensyaratkan adanya lapisan material yang tebal, sehingga dapat membentuk simpanan air tanah. Oleh karena itu, mata air jarang terbentuk di sekitar puncak.
  • Intrusif: batuan beku intrusif disebut juga batuan beku plutonik.
    • Dike (2, 4): struktur plutonik yang bersifat diskordan (memotong perlapisan batuan sedimen).
    • Sill(5): struktur plutonik yang bersifat konkordan (terbentuk sejajar dengan perlapisan batuan sedimen) dan datar.
    • Batholith (3): struktur plutonik masif yang terbentuk dari pembekuan simpanan (reservoir) magma. Apabila batuan batolith mengandung batuan tipe lain, maka batuan yang terkandung tersebut disebut xenolith.
    • Phacolith (b): struktur plutonik yang terbentuk pada cekungan lipatan sinklin atau pada puncak lipatan antiklin. Bagian sumbu lipatan memiliki tekanan yang rendah, sehingga dapat menjadi lokasi migrasi magma.
    • Laccolith (1): struktur plutonik yang terbentuk ketika magma tidak menembus suatu lapisan batuan sedimen. Memiliki bentuk cembung ke arah atas dan bagian dasar datar.
    • Lopolith (7): struktur plutonik berbentuk cekung. Terbentuk dari intrusi bertahap.
    • Palisade (c): tembok lapisan batuan beku memanjang yang tersingkap di permukaan. Palisade dapat terbentuk dari singkapan dike maupun sill.
    • Leher vulkanik (volcanic neck) (6): struktur plutonik berbentuk tiang, terbentuk dari pembekuan magma di dalam pipa/konduit gunungapi.

    a. Ilustrasi struktur intrusi

    b. phacolith

    c. palisade

3. Bentanglahan Fluvial

  • Bentanglahan fluvial dibentuk dari proses mengalirnya air di permukaan Bumi (proses fluviatil).

3.1. Proses Geomorfologis Bentanglahan Fluvial

  • Proses yang membentuk bentuklahan dalam bentanglahan fluvial meliputi erosi, transportasi, dan deposisi oleh air di permukaan Bumi.
    • Erosi adalah perusakan dan pemindahan material oleh agen erosi, dalam hal ini air.
    • Transportasi adalah pemindahan material. Transportasi sungai dapat diklasifikasikan menjadi:
      1. Sedimen terlarut (dissolved load): mineral yang terlarut dalam air.
      2. Sedimen melayang (suspended load): material berukuran debu dan lumpur. Sedimen melayang menyebabkan air keruh.
      3. Sedimen dasar sungai (bed load): material berukuran pasir dan lebih besar. Sedimen dasar sungai dapat bergerak melalui proses:
        • Saltasi: gerakan melompat-lompat. Gerakan material berukuran pasir hingga kerikil.
        • Rolling: gerakan menggelinding sedimen berukuran besar dengan permukaan membulat.
        • Traksi: gerakan bergeser sedimen berukuran besar dengan permukaan datar. Bed load
    • Deposisi adalah pengendapan material. Seringkali disebut juga sedimentasi.
  • Kontrol proses tersebut adalah kecepatan aliran air.
    • Kecepatan aliran tinggi akan menyebabkan erosi, kecepatan sedang menyebabkan transportasi, dan kecepatan aliran rendah menyebabkan deposisi.
    • Ukuran material menentukan kecepatan aliran yang diperlukan untuk menyebabkan proses tertentu.
    • Grafik yang menunjukkan hubungan ukuran material, kecepatan aliran, dan proses yang terjadi disebut Kurva Hjulstrom. Kurva Hjulstrom
      Kurva Hjulstom. Amati bahwa debu/lanau (silt) dan lempung (clay) tidak mengalami deposisi meskipun kecepatannya sangat rendah. Hal ini disebabkan karena ukurannya yang sangat kecil sehingga gaya apungnya lebih tinggi daripada gaya gravitasi.
  • Erosi menggerus bentuklahan tinggi dan mengisi bentuklahan rendah. Proses gerusan bentuklahan tinggi disebut degradasi sedangkan pengisian bentuklahan rendah disebut agradasi.
  • Bentanglahan fluvial dibagi menjadi 3 zona berdasarkan tingkat kedewasaan erosinya.
    • Kedewasaan erosi ditentukan berdasarkan orientasi erosi yang terjadi.
    • Erosi berusia muda dominan menggerus ke arah bawah.
      • Hal ini disebabkan karena pada bentanglahan yang baru terbentuk, misalnya ketika pengangkatan atau erupsi gunung api baru terjadi, kemiringan lerengnya akan sangat curam.
      • Lereng yang curam menyebabkan air mengalir dengan kecepatan tinggi, sehingga dapat mengerosi material berbagai ukuran dengan kuat.
    • Erosi berusia tua dominan menggerus ke samping.
      • Gerusan ke samping disebabkan karena inersia dari aliran air yang berbelok.
  • Ukuran maksimal material yang dapat ditransportasikan sungai disebut kompetensi sungai. Kompetensi sungai dikontrol oleh kecepatan aliran.
  • Berat sedimen maksimal yang dapat ditransportasikan sungai disebut kapasitas sungai. Kapasitas sungai dikontrol oleh debit aliran.
  • 3 zona bentanglahan fluvial berdasarkan perkembangan kedewasaan erosinya yaitu: proses sungai
    material sungai
    1. Zona Sungai Stadia Muda (Zona Hulu):
      • Lereng curam menyebabkan proses dominan yaitu erosi. Erosi berorientasi ke bawah. Proses ini membentuk lembah yang dalam (berbentuk seperti huruf V).
      • Material yang terdapat di lembah sungai baru mengalami erosi, kecepatan aliran sungai tinggi. Hal ini menyebabkan material sungai berukuran besar dan memiliki tepian runcing (angular, bad roundness). Kompetensi sungai tinggi.
      • Material berukuran besar dan kecil bercampur, disebut juga memiliki sortasi material buruk.
    2. Zona Sungai Stadia Dewasa (Zona Tengah):
      • Lereng yang lebih landai menyebabkan proses dominan transportasi. Erosi berorientasi seimbang antara vertikal (ke bawah) dan lateral (ke samping).
      • Lembah sungai berukuran lebih lebar daripada zona hulu, berbentuk seperti huruf U.
      • Mulai nampak deposisi di tepi aliran sungai (gosong tepi/point bar) dan di tengah sungai (gosong tengah/channel bar).
      • Mulai nampak kelokan sungai (meander).
      • Kecepatan aliran yang lebih lambat daripada hulu menyebabkan material berukuran besar mengalami deposisi.
      • Material mengalami erosi saat dalam proses transportasi, sehingga tepi materialnya membulat.
    3. Zona Sungai Stadia Tua:
      • Lereng sangat landai menyebabkan proses dominan deposisi. Erosi yang terjadi berorientasi lateral (ke samping) karena aliran air yang berkelok.
      • Lembah sungai berukuran sangat lebar, berbentuk seperti huruf U dengan dasar lebar.
      • Terdapat banyak bentukan deposisi di tepi aliran.
      • Aliran sungai membentuk meander kompleks.
      • Kecepatan aliran sangat lambat menyebabkan material yang tertransportasi sungai berukuran kecil. Kompetensi sungai rendah.
      • Namun, debit sungai yang besar dapat mentransportasi material dengan jumlah besar. Kapasitas sungai tinggi.
      • Material berbentuk bulat (well rounded), ukurannya seragam (sortasi baik).
  • Roundness vs. sphericity
    roundness sphericity

3.2. Bentuklahan Bentanglahan Fluvial

  • Bentuklahan di Zona Hulu
    1. Lembah berbentuk V: disebabkan karena erosi vertikal.
    2. Taji mengunci (interlocking spurs): bentanglahan fluvial berbeda dengan bentanglahan lain seperti bentanglahan struktural dan glasial. Air tidak dapat mengerosi menembus halangan topografi, sehingga lembah yang terbentuk berkelok mengelilinginya.
      Bentuklahan hulu
  • Bentuklahan di Zona Tengah dan Hilir
    1. Dataran Banjir (floodplain): lembah hasil erosi sungai, terisi oleh material deposisi material aluvial (material hasil transportasi sungai).
    2. Saluran sungai (river channel): lembah berukuran kecil di dalam dataran banjir yang dilalui air sungai.
    3. Tanggul alami (natural levee): tanggul atau tinggian kecil pada tepi saluran sungai. Proses pembentukan tanggul alami yaitu sebagai berikut:
      natural levee\
    4. Jeram dan air terjun: jeram adalah lompatan kecil pada aliran air sedangkan air terjun adalah lompatan besar. Jeram dan air terjun terbentuk ketika sungai melewati area dengan batuan yang lebih lemah sehingga area tersebut mengalami erosi lebih cepat dan membentuk lembah yang lebih dalam. Jeram dan air terjun juga dapat terbentuk jika batuan yang dilalui aliran sungai mengalami pengangkatan. Ketika banjir terjadi, air meluap lebih tinggi dari tepi saluran sungai dan luas aliran sungai meningkat secara drastis. Akibatnya, kecepatan aliran berkurang dengan drastis dan kapasitas sungai juga berkurang drastis, material yang terbawa sungai cepat mengalami deposisi dekat dengan tepi saluran sungai.
    5. Rawa Belakang (backswamp): rawa yang terbentuk pada dataran banjir. Air terperangkap dan tidak dapat memasuki sungai karena terhalang tanggul alami.
    6. Yazoo stream: anak sungai yang akan memasuki sungai utama terhalang tanggul alami, sehingga mengalir sejajar dengan sungai utama.
    7. Meander: kelokan sungai.
      sinous dan meander
      Tingkatan kelokan sungai: sungai lurus, sinous melenkung sedikit, dan meander berbelok seperti ular
      pembentukan meander
      Meander terbentuk karena adanya variasi pada material dasar sungai. Terdapat zona yang lebih dangkal (riffle) dan lebih dalam (pool). Zona dangkal dilalui kecepatan air cepat sedangkan zona dalam dilalui kecepatan air lambat. Ketika berubah kecepatan, inersia gerakan air akan mendorong air ke samping. Suatu sisi sungai akan tererosi lebih kuat daripada sisi lain, sehingga sungai membentuk meander ke arah tersebut.
    8. Point bar dan undercut bank: sisi bagian dalam belokan meander memiliki kecepatan aliran lebih lambat daripada bagian luar belokan. Garis tengah rata-rata aliran sungai (tali arus, thalweg) berada di sisi luar belokan sungai. Bagian luar belokan tererosi ke luar, menyebabkan longsor tepi sungai, dan juga tererosi ke bawah, menyebabkan sungai yang lebih dalam. Sisi tersebut disebut undercut bank. Sementara itu, bagian dalam belokan yang alirannya lambat menyebabkan deposisi material, membentuk point bar (gosong tepi sungai).
    9. Danau tapal kuda (oxbow lake), cutoff, dan gosong tengah (channel bar): danau tapal kuda terbentuk karena erosi memotong belokan meander. Aliran yang memotong tersebut disebut cutoff. Ketika cutoff awalnya terbentuk, akan terdapat dua aliran, aliran meander asli dan cutoff yang memotong. Point bar berubah menjadi pulau yang berada di tengah aliran, disebut gosong tengah (channel bar). Ilustrasi bentukan sungai
  • Pola Aliran Sungai:
    • Pola Linear/Paralel: berkembang di area dengan kemiringan lereng sangat tinggi, sehingga seluruh erosi terjadi ke bawah.
    • Pola Radial: pola aliran menjauh dari 1 titik (radial sentrifugal) misal pola pada kerucut gunungapi, dan juga pola aliran menuju 1 titik (radial sentripetal) misal pola pada cekungan struktural.
    • Pola Trelis: anak sungai kecil paralel satu sama lain memasuki 1 sungai besar denga sudut tegak lurus. Terbentuk di lembah lipatan.
    • Pola Rektangular: aliran sungai yang berbelok dengan sudut tegak lurus atau lebih tajam karena ada pengaruh sesar atau kekar.
    • Pola Annular: aliran yang bergerak sedikit memutar. Terbentuk karena aliran radial yang dibelokkan mengelilingi struktur yang dialiri karena terdapat halangan batuan yang resisten terhadap erosi.
    • Pola Dendritik: anak sungai tersusun seperti serabut. Terbentuk di wilayah relatif datar dan material yang seragam. Pola aliran
  • Peremajaan Sungai (river rejuvenation): peremajaan sungai adalah perubahan tingkat kedewasaan erosi yang tejadi di sungai menjadi usia lebih muda.
    • Peremajaan sungai terjadi karena batuan tempat sungai mengalir mengalami pengangkatan, sehingga meningkatkan proporsi erosi vertikal.
    • Peremajaan sungai dapat membentuk teras aluvial, yaitu bentukan seperti bangku pada tepi dataran banjir.
      teras sungai
    • Bentukan lain yang mungkin terbentuk adalah entrenched meander, yaitu meander yang tergerus pada lembah yang dalam karena pengangkatan terus-menerus terjadi pada batuan yang dilalui sungai bermeander.
      entrenched meander
    • Peremajaan sungai juga mungkin membentuk knick point, yaitu jeram atau air terjun.
      knickpoint
  • Braided vs. anastomosing stream
    • Sungai teranyam, terbentuk karena suplai sedimen sungai yang sangat besar membentuk banyak channel bar.
    • Channel bar pada braided stream mudah muncul dan mudah hilang. Sementara itu, pada anastomosing stream, channel bar lebih stabil, ditumbuhi vegetasi, sehingga lebih permanen. image
  • Sungai yang melewati barisan pegunungan:
    • Sungai Antesenden: Antesenden artinya sungai yang memotong sudah ada sebelum proses struktural yang membentuk pegunungan terjadi.
    • Superimpose: Superimposed berarti sungai memotong bentukan struktural setelah ia terbentuk.
    • Spillover: satu sisi pegunungan membentuk reservoir yang kemudian meluap ke sisi pegunungan lain. Aliran luapan menyebabkan erosi yang membentuk lembah sungai memotong pegunungan.
    • Piracy: sungai pada satu sisi pegunungan terus mengerosi ke arah hulu sehingga lembah sungainya bergabung dengan lembah sungai lain di sisi gunung sebaliknya.
      Sungai memotong struktural

4. Bentanglahan Marine

Bentanglahan marine dibentuk dari proses yang berkaitan dengan lautan. Sebelum memperdalam pemahaman mengenai bentanglahan marine, mari mengenal istilah pembagian wilayah kepesisiran terlebih dahulu.

4.1. Proses Geomorfologis Bentanglahan Marine

Perkembangan bentanglahan marine dipengaruhi oleh 2 proses lautan, arus dan gelombang.

4.1.1. Gelombang

Gelombang adalah rambatan energi tanpa diikuti rambatan mediumnya. Maksudnya, gelombang laut merupakan rambatan energi melalui medium air laut, namun air laut sebagai medium hanya bergerak ke atas dan ke bawah, tidak mengikuti gerakan energinya. Gelombang laut memiliki anatomi sebagai berikut:
Anatomi Gelombang Laut
Anatomi Gelombang Laut. Satu unit gelombang didefinisikan sebagai bagian gelombang dari puncak tertinggi satu ke puncak tertinggi selanjutnya atau dari satu lembah terendah ke lembah terendah selanjutnya atau bagian gelombang yang mencakup satu puncak dan satu lembah. Amplitudo adalah tinggi puncak tertinggi dan sama dengan kedalaman lembah terendah terhadap ketinggian permukaan laut. Panjang gelombang (L) adalah panjang satu unit gelombang pada satu waktu. Periode gelombang (T) adalah waktu yang diperlukan di suatu titik pada rambatan gelombang untuk mengalami satu unit gelombang. Frakuensi gelombang yaitu jumlah unit gelombang yang terbentuk dalam satu satuan waktu (satuan Hz untuk jumlah gelombang dalam 1 detik). Sementara itu, cepat rambat gelombang (C) merupakan pembagian dari panjang dan periode gelombang.

Gelombang laut diklasifikasikan berdasarkan panjang periodenya, sebagai berikut:
Klasifikasi Gelombang Laut Menurut Periodenya

  1. Gelombang karena angin:
    • Pengaruh angin terhadap gelombang dipengaruhi oleh 3 aspek: kecepatan angin, lama angin berhembus, dan fetch. Fetch adalah panjang permukaan air laut yang dipengaruhi oleh angin dengan arah yang sama.
    • Angin menyebabkan riak-riak kecil di permukaan laut (ripple).
    • Riak-riak tersebut ketika bertemu dengan gelombang riak lain dapat mengalami interferensi konstruktif atau destruktif. Interferensi konstruktif terjadi ketika gelombang yang bertemu memiliki fase yang sama, artinya puncak gelombang bertemu puncak gelombang dan lembah gelombang bertemu lembah gelombang. Sebaliknya, ketika gelombang yang bertemu memiliki fase yang berlawanan, maka akan terbentuk interferensi destruktif. Interferensi konstruktif membentuk gelombang yang lebih besar sedangkan interferensi negatif mengurangi ukuran gelombang.
    • Ketika interferensi konstruktif membentuk gelombang dengan periode lebih dari 1/10 detik, maka dinamai gelombang angin (wind wave).
    • Gelombang angin yang terbentuk di perairan tertutup (seluruh tepinya tertutup halangan) dapat membentuk gelombang stasioner (standing wave/seiche). Halangan di seluruh tepi perairan berarti energi gelombang tidak dapat bergerak ke satu arah tertentu, titik terbentuknya puncak dan lembah gelombang tidak berpindah.
  2. Gelombang karena gangguan seismik atau longsor (Tsunami):
    • Gangguan seismik dan longsor dapat menyebabkan perpindahan vertikal air laut ke arah atas.
    • Ketika kolom air yang terangkat ini jatuh kembali, energi yang terbawa akan dilepaskan dalam bentuk gelombang tsunami ke segala arah.
  3. Gelombang karena gravitasi (Pasang-Surut):
    • Karena kedekatan jarak Bulan terhadap Bumi, pengaruh gaya gravitasinya cukup untuk mempengaruhi ketinggian permukaan lapisan air yang membentuk lautan.
    • Puncak gelombang terbentuk di permukaan Bumi yang menghadap dan membelakangi Bulan. Pada sisi yang membelakangi Bulan, revolusi Bulan membentuk gaya sentrifugal yang inersianya melebihi kekuatan gravitasi Bulan, membentuk puncak gelombang. Sementara itu, di sisi yang menghadap Bulan, kekuatan gravitasi Bulan lebih tinggi daripada inersia, sehingga membentuk puncak gelombang juga.
    • Gaya sentrifugal yang terbentuk dari revolusi Bulan bergerak ke arah menjauhi Bulan karena sistem revolusi Bulan terhadap Bumi tidak berputar pada pusat Bumi, melainkan agak bergeser ke arah mendekati Bulan. Titik ini bernama barycenter.

Diagram Benda Bebas Pasang Surut
Diagram Badan Bebas Air Laut yang Dikenai Gravitasi Bulan

Diagram Barycenter Sistem Bumi-Bulan
Diagram Barycenter Sistem Bumi-Bulan

  • Ketika Bumi melakukan rotasi, suatu lokasi di Bumi akan melewati 2 area pasang dan 2 area surut dalam waktu 24 jam. Fenomena ini disebut semidiurnal.
  • Pengaruh kemiringan bidang revolusi Bulan terhadap letak lintang suatu lokasi dapat menyebabkan suatu lokasi mengalami 1 pasang dan 1 surut dalam waktu 24 jam. Fenomena ini disebut diurnal.
  • Pengaruh topograrfi lokal dan geometri cekungan samudra, dikombinasikan dengan kemiringan bidang revolusi Bulan, dapat pula menyebabkan pasang surut campuran dominan semidiurnal atau campuran dominan semidiurnal.

4.1.2. Arus

Arus adalah aliran air dalam tubuh lautan. Dalam materi Meteorologi dan Klimatologi, dijelaskan bahwa arus di lautan lepas dapat terbentuk oleh angin sirkulasi meridional (membentuk Gyre) dan perbedaan suhu serta salinitas lautan (membentuk sirkulasi termohalin). Sementara itu, arus yang mempengaruhi bentuklahan pesisir terbentuk ketika gelombang pecah.

Gelombang laut di laut dalam hanya merambat di permukaan laut tanpa energinya menyentuh dasar laut, sehingga, bisa membentuk gerakan siklik (memutar). Ketika gerakan siklik air laut tersebut terganggu oleh dasar laut, maka sebagian energinya berubah bentuk. Energi yang sebelumnya membentuk cepat rambat gelombang berubah menjadi amplitudo gelombang. Ketika gelombang mencapai ketinggian tertentu, ia akan mencapai kondisi tidak stabil, sehingga pecah. Air tidak lagi bergerak siklik kembali ke bawah, melainkan bergerak meluncur ke arah daratan.
Diagram Gelombang Dalam, Peralihan, dan Dangkal
Diagram Pembentukan Pecah Gelombang (Surf). Dapat diamati bahwa fase gelombang tidak menyentuh dasar laut disebut gelombang dalam, gelombang menyentuh dasar laut disebut gelombang peralihan, dan gelombang pecah disebut gelombang dangkal. C dalam diagram menyimbolkan cepat rambat gelombang (celerity), sedangkan L menyimbolkan panjang gelombang.

Terdapat 3 jenis arus yang terbentuk di pesisir: arus menuju pantai, arus susur pantai, dan arus retas.

  1. Arus Menuju Pantai (Onshore Current) Arus menuju pantai adalah arus yang bergerak tegak lurus menuju ke daratan. Arus ini terbentuk ketika gelombang yang gerakannya tegak lurus terhadap garis pantai pecah. Arus ini menyebabkan transportasi material ke arah darat.

  2. Arus Susur Pantai (Longshore Current)
    Arus susur pantai adalah arus yang bergerak menyusuri pantai. Arus ini terbentuk ketika gelombang yang datang memiliki arah miring terhadap garis pantai, sehingga, ketika gelombang pecah, air terdorong ke arah miring terhadap pantai. Arus ini bergerak paralel dengan garis pantai hingga bertemu halangan topografis atau arus susur pantai lain yang arahnya berlawanan. Arus ini menyebabkan perpindahan material paralel terhadap garis pantai.

  3. Arus Retas (Rip Current)
    Arus retas bergerak tegak lurus menjauhi garis pantai, membawa material ke arah laut. Arus ini dapat terbentuk ketika terdapat 2 arus susur pantai bertemu atau ketika terdapat aliran air dari sungai menuju ke laut. Arus ini menyebabkan perpindahan material pantai ke arah laut.

4.2. Bentuklahan Bentanglahan Marine

4.2.1. Pembagian Wilayah Kepesisiran

Pembagian Wilayah Kepesisiran

  • Wilayah kepesisiran meliputi wilayah daratan yang masih dipengaruhi proses lautan dan wilayah lautan yang dipengaruhi oleh proses daratan.
  • Wilayah ini mencakup area antara permulaan pecah gelombang hingga sebagian daratan yang memiliki air payau (campuran air tawar dan asin).
    • Dari laut ke darat, wilayah ini terdiri dari zona pecah gelombang dan pantai (shore), dibatasi garis pantai (shoreline). Garis pantai adalah garis surut terendah.
    • Area antara garis pantai dengan garis pesisir (coastline) disebut pantai (shore). Garis pesisir adalah garis pasang tertinggi.
    • Pesisir (coast) berada di belakang pantai yang masih memiliki material berasal dari lautan.
    • Wilayah daratan di belakangnya yang masih dipengaruhi air payau dapat membentuk rawa belakang jika tergenang atau dataran aluvial kepesisiran jika kering.
    • Gisik (beach) adalah wilayah dengan material lepas-lepas. Beting (tanggul) dapat terbentuk pada garis pesisir.
    • Susunan beting gisik berulang dapat terbentuk di wilayah pesisir ketika daratan bertambah luas (pantai maju). Wilayah antara beting gisik dapat membentuk lembah (swale) kering maupun tergenang.

4.2.2. Klasifikasi Pesisir

Berdasarkan tenaga pembentuknya, Shepard (1972) mengklasifikasikan pesisir menjadi pesisir primer dan sekunder.
Pesisir Primer
Pesisir primer terbentuk karena tenaga dari daratan. Pesisir ini disebut juga pesisir muda, karena pengaruh tenaga pembentuk awal lebih dominan dari tenaga gelombang dan arus laut.

  1. Pesisir Erosi Daratan (Land Erosion Coast)
    Pesisir erosi daratan terbentuk karena erosi oleh sungai atau gletser. Pesisir yang terbentuk dari erosi sungai disebut Ria, sedangkan gletser membentuk pesisir Fjord. Pantai saku pada bentanglahan karst juga termasuk pesisir erosi daratan, karena pesisir terbentuk pada lembah karst yang terbentuk karena erosi pelarutan batuan oleh air hujan. Pesisir ini dicirikan oleh teluk yang memanjang berbentuk lembah ke daratan.
  2. Pesisir Deposisi Subaerial (Subaerial Deposition Coast)
    Pesisir deposisi subaerial terbentuk dari deposisi material dari aliran sungai, gletser, atau angin. Pesisir tipe ini mencakup delta, pantai gisik, gumuk pasir, paparan lumpur, pantai rawa, dan mangrove. Pesisir yang terbentuk pada wilayah dengan gelombang yang kuat membentuk pantai gisik, karena mampu membawa sedimen berukuran besar, sedangkan pesisir dengan gelombang lemah membentuk paparan lumpur dan rawa. Pesisir gumuk pasir terbentuk pada pesisir gisik dengan angin yang kuat. Ternary diagram klasifikasi delta galloway
    Delta diklasifikasikan oleh Galloway (1975) berdasarkan tenaga utama pembentuknya. Delta yang terbentuk karena tenaga sungai yang dominan memiliki bentuk memanjang ke laut dan memiliki banyak percabangan (distributary), dinamakan delta elongate. Delta yang terbentuk karena gelombang yang dominan tidak memiliki distributary, memiliki bentuk segitiga ke arah laut dengan titik terjauh pada muara sungai, dinamakan delta cuspate. Delta lobate terbentuk ketika tenaga sungai dan gelombang sama-sama dominan, membentuk delta yang membulat dengan banyak distributary. Delta yang terbentuk karena tenaga dominan pasang-surut memiliki banyak bentukan pulau kecil, dinamakan delta estuarine.
  3. Pesisir Vulkanik (Volcanic Coast)
    Pesisir vulkanik terbentuk dari deposisi langsung material hasil letusan gunungapi.
  4. Pesisir Struktural (Structurally-shaped Coast)
    Pesisir struktural terbentuk dari gawir sesar. Pesisir ini disebut memiliki tebing sejati (true cliff), artinya, bentukan tebing aktif mengalami erosi.

Pesisir Sekunder
Pesisir sekunder terbentuk karena tenaga dari lautan.

  1. Pesisir Erosi Gelombang (Wave Erosion Coast)
    Pesisir erosi gelombang membentuk beberapa bentuklahan khas sebagai berikut: ilustrasi cliff dan wave cut platform
    Tebing yang terbentuk tidak langsung menunjam ke laut dalam, melainkan memiliki paparan di bagian depannya, dinamakan paparan erosi gelombang (wave-cut platform). Tebing ini juga termasuk tebing sejati karena masih mengalami erosi. Cekungan pada kaki tebing yang terbentuk karena gelombang mengerosi tebing disebut notch. refraksi gelombang laut
    Pada tanjung (headland), gelombang dapat bergerak datang dari arah samping karena adanya refraksi gelombang. Dasar laut di depan tanjung memiliki kedalaman (batimetri) yang lebih dangkal daripada wilayah sekitarnya, sehingga gelombang mengalami pelambatan lebih dahulu. Akibatnya, energi gelombang terkonsentrasi ke arah tanjung yang memiliki cepat rambat gelombang lebih rendah. Sementara itu, wilayah teluk mengalami energi gelombang yang lebih kecil. Ilustrasi headland erosion landform
    Kekuatan gelombang dapat menyebabkan retakan pada batuan tebing mengalami perbesaran ukuran, sehingga membentuk gua laut (sea cave), yang dapat membesar dan menembus sisi lain tanjung sehingga membentuk plengkung atau jembatan alami (natural arch). Erosi lanjut pada dasar lereng akan menyebabkan bagian atas plengkung tidak stabil, sehingga membentuk daratan terpisah yang disebut tonggak laut (sea stack), yang ketika mengalami erosi lebih lanjut akan membentuk sea stump.
  2. Pesisir Deposisi Lautan (Marine Deposition Coast)
    Pesisir deposisi laut terbentuk dari material yang berasal dari laut. Pesisir yang sedimennya berasal dari laut umumnya dicirikan dengan asal biogenik (pecahan karang dan cangkang), kadar mineral kalsit yang lebih tinggi, atau tidak adanya sumber material dalam jumlah besar dari darat (muara sungai yang memiliki longshore current). Pesisir tipe ini membentuk bentuklahan sebagai berikut:
    • Gisik
      Gisik dari deposisi material yang berasal dari laut. Umumnya dicirikan dari materialnya yang berawarna putih, karena terbentuk dari mineral kalsit yang berasal dari terumbu karang dan cangkang hewan laut.
    • Bura (spit) dan tombolo
      Bura atau spit merupakan bentukan gisik memanjang ke arah laut. Gisik ini dapat terbentuk ketika terdapat arus susur pantai pada pantai yang berbelok. Arus susur pantai tetap mengalir seperti arahnya semula, tidak mengikuti belokan pantai, sehingga material yang terbawa terdeposisi memanjang ke arah laut. Tombolo merupakan spit yang menghubungkan daratan utama dengan pulau kecil.
    • Pulau pelindung
      Merupakan kenampakan pulau memanjang yang terbentuk dari material gisik. Pulau pelindung dapat terbentuk dari deposisi arus susur pantai yang tidak mengalir menempel pada garis pantai, misalnya di bagian depan suatu teluk.
    • Laguna
      Merupakan badan air asin atau payau (campuran antara air laut asin dan air tawar) yang terpotong dari lautan, misalnya oleh pulau pelindung atau spit.
  3. Pesisir yang Dibentuk oleh Organisme (Coast Built By Organism)
    Organisme membentuk bentuklahan pesisir khas sebagai berikut:
    • Fringing reef
      Merupakan bentuklahan batu karang yang terbentuk dari proses terumbu karang yang tumbuh di tepian dan menempel pada daratan. Terumbu karang terbentuk dari simbiosis polip dan alga. Hewan polip membentuk cangkang dari mineral kalsit dan memberikan perlindungan terhadap alga. Alga melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk polip. Fringing reef tumbuh di perairan dangkal pada tepian daratan. Kemampuan tumbuhnya dipengaruhi oleh suhu perairan, sedimen dan arus laut. Terumbu karang hanya dapat tumbuh di perairan hangat di sekitar ekuator. Air laut yang mengandung banyak sedimen mengurangi jumlah sinar matahari yang mencapai dasar laut. Akibatnya, menghambat proses fotosintesis alga dan menghambat perkembangan terumbu karang. Arus laut berpengaruh pada transportasi sedimen dan distribusi air laut hangat dan air laut dingin.
    • Barrier reef
      Merupakan perkembangan dari bentuklahan fringing reef berupa batu karang yang terpisah dari daratan utama. Ketika daratan mengalami subsidensi (penurunan ketinggian permukaan daratan) akibat pengaruh tenaga endogen, mengalami erosi, atau ketika permukaan air laut mengalami kenaikan, terumbu karang dapat terus bertumbuh ke atas untuk memperoleh cahaya matahari, sedangkan permukaan daratan terus tenggelam. Akibatnya, bentukan batu karang yang terbentuk terpisah dari daratan utama.
    • Atoll
      Bentuk lanjut dari evolusi bentuklahan batu karang. Ketika daratan utama, umumnya pulau vulkanik, sudah mengalami erosi dan subsidensi sehingga sepenuhnya tenggelam ke dasar laut, maka bentuklahan yang tersisa hanyalah pulau karang berbentuk lingkaran yang disebut atoll. bentuklahan terumbu

5. Bentanglahan Solusional

  • Bentanglahan solusional dibentuk dari proses pelarutan batuan.

5.1. Pembentukan Bentanglahan Solusional

  • Bentanglahan solusional, disebut juga bentanglahan karst, terbentuk di wilayah dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    1. Terbentuk dari batuan mudah larut (batugaram, batugamping kalsit, batugamping dolomit) yang tersingkap di permukaan (tertutup sedimen/tanah tipis), bersifat masif (membentuk satu massa batuan utuh yang luas dan dalam), berlapis, dan memiliki kekar.
    2. Memiliki iklim dengan curah hujan tinggi.
    3. Memiliki arus air tanah rendah.
  • Bentanglahan karst terbentuk dari proses karstifikasi, yaitu pelarutan mineral karbonat (kalsit dan dolomit) oleh air hujan dengan kandungan asam karbonat. Kandungan asam karbonat dalam air hujan berasal dari karbon dioksida di atmosfer yang terlarut.
  • Perkembangan bentanglahan solusional/karst terjadi sebagai berikut:
    1. Batuan karbonat terbentuk dari deposisi mineral karbonat di dasar laut. Blok batuan tersebut terangkat ke atas permukaan air melalui proses tektonisme. Proses ini menyebabkan batuan memiliki banyak kekar.
    2. Kekar pada batuan membentuk titik lemah, sehingga terjadi erosi pelarutan yang lebih intensif daripada wilayah sekitarnya. Proses ini membentuk variasi tinggian (bukit) dan rendahan (lembah) pada bentanglahan karst.
    3. Air hujan masuk melalui saluran (konduit) yang terbentuk pada kekar. Sifat batuan yang berlapis menyebabkan air hujan tidak dapat menembus langsung melewati keseluruhan lapisan batuan. Akibatnya, terbentuk gua horizontal dan dapat membentuk sungai bawah tanah dalam gua tersebut.
    4. Air hujan yang jatuh pada bentanglahan karst sebagian mengalami infiltrasi ke dalam tanah dan perkolasi ke dalam batuan. Batugamping tidak memiliki pori, sehingga bersifat kedap air (tidak memiliki porositas primer). Namun proses tektonisme menyebabkan terbentuknya banyak retakan (diaklas) pada batuan, sehingga batuan memiliki kemampuan menyimpan dan menyalurkan air (memiliki porositas sekunder).
    5. Air yang tersimpan dalam retakan batuan perlahan mengalir ke bawah hingga mencapai rongga gua. Air tersebut menetes perlahan, membentuk ornamen gua ketika mineral yang terlarut mengalami presipitasi. Mekanisme ini juga yang menyebabkan sungai bawah tanah yang terbentuk dalam gua bentanglahan karst dapat mengalir sepanjang tahun.
  • Pola aliran sungai pada bentanglahan solusional disebut pola aliran multibasinal. Hal ini disebabkan karena sungai permukaan memiliki banyak (multi) lembah (basin). Sungai permukaan mengalir masuk dan keluar dari bawah tanah, membentuk lembah sungai yang terpisah.

5.2. Bentuklahan dalam Bentanglahan Solusional

  • Bentuklahan dalam bentanglahan solusional dibagi menjadi dua tipe berdasarkan kedudukannya, eksokarst apabila berada di permukaan dan endokarst apabila berada di bawah permukaan tanah.
  • Bentuklahan eksokarst yang berukuran besar disebut bentuklahan karst mayor, sedangkan bentuklahan yang kecil disebut bentuklahan karst minor.
    • Mayor:
      1. Bukit karst: bukit berbentuk kerucut yang mengalami tingkat erosi lebih rendah daripada wilayah sekitarnya.
      2. Kokpit karst: lembah yang saling berhubungan di antara bukit karst, membentuk bentukan seperti bintang.
      3. Ponor: lubang dan saluran tempat masuknya air dari permukaan ke sungai bawah tanah.
      4. Dolina, Uvala, Polje: Dolina (sinkhole) adalah lembah yang terbentuk karena amblesan. Uvala adalah gabungan beberapa dolina, ketika erosi lebih lanjut telah terjadi. Polje adalah lembah berukuran sangat besar, terbentuk dari gabungan proses erosi dan struktural.
      5. Lembah Buta (blind valley): lembah sungai dengan sungai mengalir masuk ke bawah tanah. Ketika seluruh aliran sungai masuk ke bawah tanah, lembah sungai yang ditinggalkan di permukaan disebut lembah kering (dry valley).
      6. Menara Karst: bentukan seperti menara dengan lereng sangat terjal yang terbentuk dari sisa erosi batuan karbonat.
      7. Mogote: bentukan bukit sisa erosi batuan karbonat yang dikelilingi oleh dataran.
    • Minor:
      1. Parit Karst: lubang memanjang akibat erosi karst.
      2. Karren/Lapies: batuan permukaan karst yang berbentuk tidak beraturan akibat erosi.
      3. Travertine: deposisi mineral karbonat di sekitar mata air. Dapat membentuk kolam-kolam bertingkat.
  • Bentuklahan endokarst merujuk pada ornamen gua (speleothem) yang berada di dalam gua karst, meliputi:
    1. Stalaktit: deposisi mineral karbonat berbentuk kerucut yang menggantung pada gua.
    2. Stalagmit: deposisi mineral karbonat berbentuk kerucut yang tumbuh dari dasar gua. Biasanya terbentuk di bawah stalaktit karena deposisi mineral dari air yang meneter dari stalaktit.
    3. Pilar: deposisi mineral karbonat berbentuk tiang, terbentuk ketika stalaktit dan stalagmit tumbuh sehingga menyatu.
    4. Curtain: deposisi mineral karbonat memanjang, sehingga berbentuk seperti tirai/gorden.
    5. Flowstone: deposisi mineral karbonat pada permukaan batuan. Terbentuk dari aliran air di permukaan batuan, sehingga deposisi mineral yang terbentuk berbentuk seperti aliran air.
    6. Travertine: dapat terbentuk pula di dalam gua.

6. Bentanglahan Denudasional

  • Bentanglahan denudasional dibentuk dari proses pelapukan, erosi, dan gerakan massa yang intensif.
  • Bentanglahan denudasional merupakan ubahan dari bentanglahan lain sehingga bentukan akibat gaya pembentukan awalnya sudah tidak nampak.

6.1. Proses Bentanglahan Denudasional

  • Pelapukan adalah kerusakan pada struktur batuan tanpa adanya perpundahan material. Pelapukan dapat terjadi secara mekanis, kimiawi, maupun biologis. Pelapukan mekanis disebabkan gaya tekanan atau tarikan pada batuan atau pelarutan mineral pada air. Pelapukan kimiawi terjadi karena reaksi mineral batuan dengan unsur lain, misalnya oksidasi (reaksi unsur besi dengan oksigen sehingga membentuk karat). Pelapukan biologis dapat terjadi secara mekanis, misal akar tanaman memecah batuan atau hewan menyebabkan pecahan pada batuan, maupun secara kimiawi, misal tanaman melepaskan zat asam pada tanah.
  • Erosi adalah kerusakan struktur batuan disertai perpindahan material. Erosi dapat disebabkan langsung oleh agen erosi, misalnya air membawa material batuan. Selain itu, material yang terbawa oleh agen erosi dapat menyebabkan kerusakan pada batuan lain ketika menabrak, proses ini disebut abrasi. Air yang bergerak dapat memerangkan udara dalam retakan batuan dan menyebabkan tekanan tinggi yang memperlebar retakan tersebut, proses ini disebut hydraulic action. Air dapat masuk ke dalam retakan batuan dan ketika membeku, air akan bertambah volumenya dan mencongkel batuan terasebut, proses ini disebut ice wedging.
  • Gerakan massa (mass movement) merupakan gerakan material menuruni lereng akibat pengaruh gaya gravitasi. Proses ini disebabkan karena gaya gravitasi, namun dapat dipicu oleh berkurangnya stabilitas material karena pemotongan lereng (lereng dipotong sehingga meningkat kemiringannya), pembebanan lereng, maupun peningkatan kadar air dalam batuan. Gerakan massa diklasifikasikan berdasarkan kandungan air, tipe gerakan, dan kecepatan gerakannya. Klasifikasi tersebut yaitu:
    Segitiga Klasifikasi Gerakan Massa
    Segitiga klasifikasi gerakan massa menunjukkan klasifikasi gerakan massa berdasarkan indikator kandungan air dalam material, tipe gerakan, dan kecepatan geraknya. Tipe gerakan heave berarti gerakan lambat dan sedikit menuruni lereng, sedangkan slide berarti gerakan cepat dan jauh menuruni lereng.
    1. Soil creep (rambatan tanah): gerakan lambat material tanah pada lereng. Gerakan soil creep sangat lambat sehingga tidak dapat diamati langsung. Pengamatan soil creep dilakukan secara tidak langsung, misalnya melihat kemiringan atau pergeseran struktur maupun kerusakan pada bangunan.
    2. Talus creep (rambatan talus): talus adalah material berbagai ukuran yang berada di lereng bawah suatu tebing. Material talus memiliki sortasi buruk, artinya material berukuran besar hingga kecil bercampur, tidak membentuk susunan lapisan tertentu. Talus umumnya terbentuk dari longsor pada lereng/tebing di atasnya. Talus memiliki porositas yang sangat tinggi sehingga materialnya lebih kering daripada tanah. Rambatan talus memiliki gerakan lebih cepat daripada rambatan tanah.
    3. Rockslide (longsor batu): material kering berupa pecahan batuan atau blok batuan meluncur menuruni lereng dengan kecepatan tinggi.
    4. Landslide (longsor tanah): material tanah lembap hingga basah bergerak dengan kecepatan tinggi menuruni lereng.
    5. Solifluksi: gerakan badan tanah cukup cepat karena keberadaan kandungan air tanah yang tinggi pada tanah. Tanah membentuk bentukan seperti gelambir di permukaan.
    6. Earthflow: gerakan aliran tanah dengan kandungan air tinggi.
    7. Mudflow: gerakan aliran lumpur dengan kandungan air sangat tinggi, banjir bandang dengan kandungan tanah tinggi.
  • Terdapat pula variasi pada material, misalnya mudflow dan debris flow memiliki kadar air sangat tinggi, namun material yang terbawa mudflow adalah tanah, sedangkan material yang terbawa debris flow adalah pecahan-pecahan batuan dan vegetasi.
  • Variasi pada tipe gerakan material juga dapat digunakan untuk mengklasifikasikan gerakan massa, yaitu:
    1. fall: material jatuh secara vertikal.
    2. topple: material ambruk.
    3. slide: material meluncur pada satu bidang pada lereng.
    4. slump: material meluncur pada lereng bagian atas dan berbelok serta bergerak secara rotasional (memutar) di bagian bawah lereng.
    5. flow: material mengalir dengan kandungan air yang tinggi. klasifikasi gerakan massa detail

6.2. Bentuklahan dalam Bentanglahan Denudasional

  • Bentuklahan dalam bentanglahan denudasional meliputi:
    1. Bentukan hasil erosi. Erosi membentuk bentukan yang berkembang sebagai berikut:
      • Pedestal: terbentuk akibat adanya permukaan tanah yang tertutup oleh batuan atau keriki. Kerikil melindungi material lepas-lepas pada permukaan tanah dari erosi percik, yaitu erosi yang terjadi ketika tetesan air hujan jatuh mengenai material permukaan tanah. Momentum dari titik air yang mengenai material berukuran kecil seperti tanah dan pasir akan membentuk satu cekungan kecil dan mendorong material tersebut ke arah samping dan ke atas. Material yang terganggu oleh erosi percik tersebut memiliki dapat lebih mudah diangkut oleh lembaran aliran air yang terbentuk ketika hujan daripada material yang permukaannya masih datar dan belum terganggu erosi percik.
      • Erosi alur: Lembaran aliran air saat hujan lama kelamaan akan mengelompok pada satu alur kecil berukuran kurang dari 20 cm, dinamakan alur erosi (erosion rill).
      • Erosi parit: Alur-alur erosi bergabung menjadi aliran yang lebih besar, hingga kedalaman puluhan meter, disebut parit erosi (erosion gully). Parit erosi dapat berupa lembah-lembah sungai di bagian hulu yang aliran airnya bersifat efemeral ataupun musiman.
    2. Inselberg - Pediment - Bajada - Playa:
      • Bentukan sisa denudasi dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan pada iklim kering disebut juga dengan istilah inselberg.
      • Tebing di tepiannya mengalami gerakan massa yang terus menerus berlangsung, menyebabkan terbentuknya akumulasi material hasil gerakan massa di kaki lereng tebingnya.
      • Material ini terbagi menjadi 2 lereng, lereng atas dengan material yang lebih kasar, disebut pediment. Gabungan banyak pediment dari inselberg yang berdekatan disebut pediplain.
      • Lereng bawah dengan material lebih halus, jika dilihat dari atas berbentuk kipas, terbentuk karena deposisi material yang terbawa aliran air dari pediment, lereng bawah ini disebut Bajada.
      • Dataran yang berada di antara inselberg, umumnya membentuk danau garam, disebut playa.

      denudasi iklim kering

    3. Peneplain: dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan pada iklim basah akan mengalami erosi yang didominasi proses sungai. Lama kelamaan, perbedaan tinggian dan rendahan (amplitudo topografi) pada permukaan Bumi tersebut akan berkurang sehingga membentuk dataran. Dataran ini disebut peneplain.

      image

    4. Tanah rusak (badland): merujuk pada topografi yang memiliki banyak kenampakan hasil proses denudasi (longsor, parit, lembah sungai) yang saling berdekatan satu sama lain dan memiliki pola yang sangat rapat. Bentuklahan ini meemiliki lapisan tanah permukaan yang tipis atau tidak ada.

7. Bentanglahan Aeolian

  • Bentanglahan aeolian dibentuk dari proses erosi, transportasi, dan deposisi oleh agen angin.
  • Bentanglahan aeolian terbentuk di wilayah dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    1. memiliki suplai material lepas-lepas yang melimpah. Material lepas-lepas inilah yang menyebabkan erosi ketika menabrak batuan-batuan di gurun dalam proses yang disebut abrasi. Material lepas-lepas juga dapat membentuk deposisi aeolian.
    2. memiliki angin dengan kekuatan yang cukup, sehingga dapat membawa material.
    3. memiliki musim kering (kemarau) yang tegas (benar-benar kering tidak ada hujan), sehingga material dapat terbawa angin.
    4. memiliki sedikit vegetasi, sehingga tidak menghalangi gerakan angin, namun juga cukup banyak untuk menghasilkan variasi bentuklahan, misalnya sebagai pemicu deposisi gumuk pasir.
  • Bentuklahan dalam bentanglahan aeolian dapat diklasifikasikan menjadi 2, bentuklahan erosional dan bentuklahan deposisional.
  • Bentuklahan erosional:

    a. Yardang: bukit batuan dengan lereng curam berbentuk memanjang sejajar dengan arah angin. Yardang terbentuk pada wilayah gurun dengan angin dominan satu arah, membawa banyak material, dan memiliki batuan dasar yang lunak seperti batuserpih atau batupasir.

    b. Zeugen / Mushroom Rock: Zeugen merupakan dataran tinggi sempit sedangkan batu jamur berbentuk seperti tiang. Keduanya terbentuk karena lapisan batuan yang berada di bagian bawah lebih mudah mengalami erosi daripada lapisan di bagian atas. Akibatnya, terbentuk bentukan tinggian sempit dengan erosi dominan di bagian bawah.

    c. Desert Pavement (hamada): permukaan dataran gurun yang terbentuk dari kerikil yang tersusun rapi. Susunan kerikil ini terbentuk karena material yang lebih halus tererosi dan terbawa angin ke tempat lain.

    d. Blowout / Deflation Hollows: lembah kecil yang terbentuk ketika angin berhembus kuat di permukaan gurun. Terbentuk pada material lepas-lepas, misal, pada padang pasir.

    e. Ventifacts: goresan pada permukaan batuan gurun yang terbentuk karena tabrakan (abrasi) oleh material yang terbawa angin.

    f. Sailing stone: batu besar yang bergerak di lembah gurun. Batuan yang terlapuk dari suatu tebing dapat bergerak jauh dari lokasi asalnya ketika terjadi hujan pada cuaca dengan suhu dingin. Lapisan es tipis yang terdapat pada permukaan genangan air di lembah gurun dapat berperan seperti layar kapal, mendorong batuan berukuran besar jauh dari lokasi asalnya dan meninggalkan jejak bergeser di lantai gurun.

  • Bentuklahan deposisional:

    a. Gumuk pasir (Sand dunes): merupakan bukit yang terbentuk dari pasir yang terbawa angin. Lokasi gumuk pasir selalu bergeser mengikuti angin. Berdasarkan geometrinya, gumuk pasir diklasifikasikan menjadi:

    1. Linear / Longitudinal / Seif: bukit pasir memanjang searah dengan arah angin. Gumuk seif memiliki bentuk memanjang dan sedikit berkelok.
    2. Transversal: bukit pasir memanjang yang berbentuk tegak lurus terhadap arah angin.
    3. Parabolik: bukit pasir berbentuk cekung (lentikular) dengan sayap (tepi memanjang) menuju arah angin.
    4. Barchan: bukit pasir lentikular dengan sayap membelakangi arah angin.
    5. Bintang: bukit pasir dengan banyak sayap karena terbentuk dari angin dengan arah yang beragam.

    b. Loess: dataran deposisi material berukuran lanau/debu dan lempung/liat.

    c. Ripple marks: riak-riak kecil tegak lurus terhadap arah angin pada permukaan material lepas-lepas di gurun, terbentuk karena turbulensi aliran angin yang menyebabkan gerakan material melompat-lompat. Seperti gumuk pasir, ripple marks juga bergerak mengikuti arah angin.

8. Bentanglahan Glasial

  • Bentanglahan glasial dibentuk dari proses erosi, transportasi, dan deposisi oleh agen es (gletser).
  • Gletser adalah massa es yang terbentuk dari akumulasi dan pemadatan salju. Gletser mengalir dari puncak gunung ke tempat yang lebih rendah, mengerosi lereng dan membentuk bentuklahan khas glasial.
  • Bentuklahan glasial dapat dibagi menjadi bentuklahan erosional dan depsisional sebagai berikut:
    • Bentuklahan erosional:
      1. Striasi: permukaan batuan yang memiliki kenampakan bergaris. Disebabkan karena abrasi akibat gesekan sedimen yang terbawa gletser dengan batuan dasar yang dilalui gletser.
      2. Lembah berbentuk U: gletser yang mengalir di lereng gunung membentuk lembah glasial luas dan dalam berbentuk U.
      3. Arete: ketika lembah berbentuk U di 2 sisi suatu gunung mengerosi sehingga tepiannya bertemu, maka akan terbentuk punggungan gunung dengan puncak yang runcing. Puncak inilah yang disebut arete.
      4. Cirque: bagian hulu aliran gletser memiliki bentuk seperti mangkok dengan satu sisi terbuka ke arah lembah glasial, karena massanya yang tinggi, sehingga erosi vertikal terjadi secara kuat.
      5. Horn: ketika cirque dari berbagai sisi suatu gunung bertemu di puncak gunung, terbentuk puncak yang memiliki lereng curam, disebut horn.
      6. Valley/Cirque Steps: batuan di lereng suatu gunung memiliki titik lemah (misal karena kekar), sehingga lembah yang terbentuk membentuk bentukan seperti tangga karena mengalami erosi lebih cepat daripada bagian lereng lainnya.
      7. Lembah Menggantung: gletser memiliki anak gletser layaknya sungai dengan anak sungai. Gletser utama dinamai gletser badan (trunk glacier), menjadi akumulasi beberapa anak gletser. Lembah gletser badan memiliki kedalaman lebih dalam daripada lembah anak gletser karena massa alirannya yang lebih besar. Akibatnya, ketika gletser meleleh, lembah anak gletser terlihat menggantung di atas lembah gletser badan.
      8. Truncated Spur: arete yang menuju lembah gletser memiliki bentuk seperti tering/taji terpotong.
      9. Roche Mountenee: batuan yang resisten terhadap erosi gletser, sehingga membentuk bukit kecil ketika gletser meleleh.
      10. Nunatak: puncak-puncak bukit yang terlihat di permukaan gletser yang luas.
      11. Kettle lake: danau yang terbentuk ketika gletser meleleh. Es dari gletser dapat menyusup masuk ke retakan pada batuan dasar aliran gletser. Ketika es tersebut meleleh, volumenya berkurang, sehingga terbentuk danau.
      12. Tarn: danau yang terbentuk pada cirque ketika gletser meleleh.
      13. Paternoster Lake: danau-danau berjajar pada lembah bekas erosi gletser, dihubungkan oleh sungai-sungai kecil.
      14. Danau Gletser: terbentuk pada ujung hilir gletser karena aliran air yang terbendung hasil deposisi glasial.
    • Bentuk Lahan Deposisional:
      1. Moraine: bukit memanjang dengan material tidak tersortasi (till). Moraine dapat terbentuk di tepian gletser sejajar dengan aliran, disebut lateral moraine. Moraine dapat terbentuk di tengah aliran gletser sejajar dengan aliran ketika 2 gletser bergabung, disebut medial moraine. Moraine dapat terbentuk di hilir aliran gletser tegak lurus terhadap aliran, dinamakan terminal moraine/end moraine.
      2. Drumlin: bukit kecil terbentuk dari material till, terbentuk di dasar aliran gletser dan baru akan nampak ketika gletser meleleh. Memiliki lereng yang curam ke arah hulu dan lereng landai ke arah hilir.
      3. Kame: bukit berbentuk tidak beraturan akibat deposisi gletser.
      4. Esker: bukit memanjang berbentuk seperti ular. Terbentuk ketika bagian dasar gletser memiliki suhu yang hagat, sehingga membentuk sungai yang mengalir di dalam gua es. Batuan dasar yang dialiri sungai ini memiliki laju erosi yang lebih lambat daripada laju erosi gletser, sehingga ketika gletser meleleh, tersisa bentukan bukit memanjang.
      5. Erratic: batu berukuran besar yang berbeda karakteristiknya dengan batuan di sekitarnya.
      6. Kipas Glasial: deposisi material di ujung gletser, berbentuk seperti kipas. Aliran sungai di atasnya mengalir dengan pola teranyam.

9. Bentanglahan Organik

  • Bentanglahan organik dibentuk dari proses yang berkaitan dengan makhluk hidup.
  • Mencakup bentukan-bentukan kecil yang sering termasuk dalam bentanglahan lain, seperti dataran terumbu karang dan mangrove pada bentanglahan marine.
  • Bentanglahan organik jarang keluar dalam soal OSN.

10. Bentanglahan Antropogenik

  • Bentanglahan antropogenik dibentuk dari proses yang berkaitan dengan manusia.
  • Proses manusia yang mempengaruhi bentuklahan adalah kegiatan penggalian, pemotongan lereng (cut and fill, memotong lereng atas dan menimbun lereng bawah), dan pengisian cekungan.
  • Bentanglahan organik jarang keluar dalam soal OSN.